”Satu Planet, Tanggung Jawab Kita Bersama”: Presiden RI Membuka Sesi Khusus ke-11 GC UNEP

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Slogan ”Satu Planet, Tanggung Jawab Kita Bersama” disampaikan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, dalam membuka Sesi Khusus ke-11 Governing Council, Global Ministerial Environment Forum United Nations Environment Programme (UNEP), di Nusa Dua, Bali, hari ini (24/02). Presiden juga menekankan nilai penting dan strategis serta harapan pertemuan UNEP kali ini dalam menjawab berbagai persoalan atas kerusakan lingkungan yang makin mencemaskan.
 
Pertemuan ini juga sangat penting untuk memperbarui komitmen masyarakat internasional menyelamatkan bumi. Melalui tema pertemuan “Lingkungan dalam Sistem Multilateral”, Presiden mengajak negara-negara di dunia untuk meningkatkan kerjasama dan kemitraan yang lebih tulus.
 
Presiden berbagi visi mengenai kontribusi Indonesia dalam mencegah kerusakan lingkungan global. Di bidang kelautan, Indonesia telah menggelar Konferensi Kelautan Dunia (WOC) dan membentuk Coral Triangle Initiative (CTI) bersama lima negara tetangga. Di bidang kehutanan, Indonesia bersama-sama dengan sepuluh negara pemilik hutan hujan tropis lainnya telah membentuk the Forest Eleven (F-11), dan bersama Malaysia dan Brunei Darusalam telah membentuk Heart of Borneo.
 
Krisis keuangan dan resesi ekonomi global, tidak hanya berdampak negatif terhadap pembangunan, tetapi juga terhadap kemampuan internasional untuk mengatasi permasalahan lingkungan. Presiden menyampaikan perlunya dunia mendesain ulang model dan strategi pembangunan ekonomi global.
 
Lima langkah penting perlu dilakukan: mengubah pola produksi dan konsumsi yang tidak berkelanjutan; menghentikan tingkat kepunahan keanekaragaman hayati; mengembangkan paradigma pembangunan ekonomi hijau yang memperhatikan pelestarian lingkungan dan ‘pro-poor, pro-job, pro-growth’; menuntaskan negosiasi perubahan iklim akhir tahun 2010, dan pembahasan isu tata kelola lingkungan internasional pada tahun 2012.
 
Pertemuan ini, setidaknya dihadiri oleh 30 pejabat setingkat menteri dan sekitar 1000 delegasi dari 130 negara hadir dalam pertemuan ini. Demikian disampaikan oleh Menlu RI, Dr. R.M. Marty M. Natalegawa, dalam laporannya kepada Presiden RI.
 
Menlu melaporkan pula bahwa sebelum pertemuan ini, secara bersamaan telah pula dilangsungkan pertemuan luar biasa 3 konvensi mengenai limbah, yaitu Konvensi Basel, Konvensi Stockholm dan Konvensi Rotterdam. “Ini merupakan kali pertama dimana pertemuan ketiga konvensi tersebut dilakukan secara bersamaan”.
 
Selain itu, telah dilaksanakan pula pertemuan Global Major Groups dan Stakeholder Forum yang merepresentasikan seluruh pemangku kepentingan. ”Ini memungkinkan semua pihak secara bersama membahas kontribusi masing-masing bagi keberlangsungan bumi yang kita cintai. Ini merupakan pertemuan pertama pada tingkat Menteri di bidang lingkungan hidup setelah Konferensi Perubahan Iklim di Kopenhagen”.
 
Pada kesempatan tersebut, Menlu RI menyampaikan harapan bersama agar masyarakat internasional mampu menguatkan kembali 3 pilar pembangunan berkelanjutan yaitu pertumbuhan ekonomi, pembangunan sosial dan pelestarian lingkungan hidup.