Tatap Muka dengan DPR RI Mahasiswa Indonesia di Islamabad Sampaikan Aspirasi

​​

ISLAMABAD- Memanfaatkan kunjungan kerja anggota DPR RI ke Pakistan dalam rangka Asian Parliamentary Assembly (APA), dan Women's Parliamentary Caucus, pada Rabu (15/3), KBRI Islamabad menggelar pertemuan dengan masyarakat Indonesia di Wisma Duta Besar KBRI - Islamabad.

 

Hadir dalam pertemuan tersebut, Delegasi anggota DPR RI yaitu, Dwi Ria Latifa (Komisi III/F-PDIP), Dave Akbarshah Fikarno (Komisi I/F-Golkar), Dewi Coryati (Komisi X/F-PAN) dan Ammi (Komisi III/F-PAN), seluruh staf KBRI Islamabad, mahasiswa dan masyarakat Indonesia di Islamabad.

 

Dalam sambutannya, Duta Besar RI, Iwan Suyudhie Amri menyampaikan selamat datang kepada para Delegasi anggota DPR di Pakistan seraya mengatakan bahwa kadatangan mereka telah lama ditunggu oleh para mahasiswa. "Sudah menjadi tradisi di sini, bahwa setiap ada tamu yang datang selalu dimintakan oleh-olehnya oleh para mahasiswa tentang perkembangan tanah air." Ujar Dubes Iwan. Para anggota DPR juga diberikan informasi mengenai kondisi WNI di Pakistan berikut upaya KBRI Islamabad dalam rangka menjalankan fungsi pembinaan dan perlindungan terhadap WNI.

 

Para mahasiswa yang hadir terlihat antusias dan tidak ingin melewatkan kesempatan tersebut untuk berdialog dengan para anggota DPR. MH. Saefullah, mahasiswa asal Jawa Timur menanyakan persoalan Temus (Tenaga Musiman) haji yang pernah diberikan Kemenag RI kepada mahasiswa yang belajar di Pakistan, namun mulai tahun 2010 sampai sekarang dihapuskan. "Hampir 80% mahasiswa yang kuliah di Pakistan -mayoritas di IIUI- atas biaya sendiri, sehingga keberadaan Temus sangat membantu kelancaran studi kami," sambung Saefullah.

 

Pernyataan tersebut mendapat dukungan Dubes Iwan yang menurutnya rata-rata mahasiswa Indonesia di Pakistan menguasai bahasa Arab, Inggris dan Urdu dan dinilai mampu membantu Kemenag untuk memberikan layanan optimal kepada jamaah haji Indonesia di tanah suci.

 

Selain Temus, persoalan lain yang ditanyakan oleh mahasiswa adalah beasiswa, perlindungan WNI dari gangguan keamanan, dan adanya stigma negatif pada mahasiswa yang kuliah di Pakistan.  

 

Menanggapi pertanyaan tersebut, para anggota DPR akan melakukan koordinasi dengan instansi terkait di Jakarta guna memastikan penyelesaian persoalan yang dikeluhkan oleh para mahasiswa di Pakistan. Terkait Temus, Dewi Coryati meminta Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) di Pakistan untuk mengirimkan surat ke ketua Komisi VIII dan menembuskannya ke Menteri Agama, Dirjen Haji dan Teknis Urusan Haji (TUH).  "Kami akan bantu sampaikan aspirasi mahasiswa semua," ujar Dewi Coryati.

 

Tentang kondisi keamanan di Pakistan yang masih rawan dan minimnya sarana transportasi umum di Islamabad, Dwi Rifa akan membantu mengupayakan pengadaan kendaraan khusus antar jemput mahasiswa, melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagaimana yang telah ada pada KBRI Kuala Lumpur.  

 

Mengenai stigma negatif mahasiswa di Pakistan, para mahasiswa diminta untuk tidak terpengaruh dengan kesan tersebut dan tetap fokus menyelesaikan studinya secara tepat waktu. "Stigma tersebut dengan sendirinya akan hilang, ketika anda kembali ke tanah air dan berkiprah aktif membangun bangsa serta menampilkan sikap yang moderat dan toleran,' ungkap Dwi Rifa.

 

Dalam catatan akhir, Dubes Iwan juga menyampaikan kondisi mahasiswa Indonesia yang selalu menjadi teladan bagi mahasiswa asing di Pakistan. "Para pimpinan Universitas dan Pesantren mengaku kagum dengan ahlak pelajar Indonesia yang mampu menjadi contoh dalam segala bidang," tutur Dubes. Untuk menepis stigma negatif tersebut, KBRI Islamabad selalu memfasilitasi setiap kegiatan diskusi tentang keislaman dan kebangsaan yang dihadiri seluruh mahasiswa secara berkala.