Penyelenggaraan Business Seminar di Karachi

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

KBRI Islamabad bekerjasama dengan KJRI Karachi  telah mengadakan Business Seminar yang mengambil tema “The Prospects of Bilateral Trade and Business Relations between Indonesia – Pakistan after the Signing of the Preferential Trade Agreement (PTA)” pada tanggal 10 Oktober 2009 di Karachi di sela-sela kegiatan Indonesia Solo Expo. Hadir sebagai pembicara dari Indonesia pada Business Forum, Mantan Duta Besar RI untuk Pakistan Bapak Jack Said Gaffar. Sementara pembicara dari Pakistan adalah Mr. Abdul Qadir Memon, Deputy Secretary Kementerian Perdagangan Pakistan dan Mr. Iftikhar Ahmad Chaudry dari kalangan pengusaha Pakistan. 
 
Hadir juga pada acara tersebut Direktur Asselteng Deplu, Direktur Keamanan Diplomatik Deplu, Kasubdit II Direktorat Asselteng Deplu, Kasi Pakistan, Direktorat Asselteng, Deputi Bidang Pengembangan Iklim Penanaman Modal BKPM, Direktur Pemberdayaan Usaha, BKPM dan beberapa pejabat BKPM lainnya serta anggota, asosiasi dagang dan pengusaha terkemuka Pakistan.
 
Tujuan utama dari kegiatan Business Forum adalah sebagai berikut:
  1. Meningkatkan interaksi bisnis antar pelaku usaha Indonesia dan Pakistan;
  2. Mendiseminasikan informasi mengenai PTA Indonesia – Pakistan; 
  3. Membangun jejaring dan pendekatan bagi pemanfaatan berbagai peluang kerjasama ekonomi dan perdagangan yang ada di kedua negara;
  4. Mempromosikan peluang peningkatan perdagangan antara kedua negara.
 
 
Business forum di buka oleh Duta Besar RI untuk Pakistan, Ishak Latuconsina, M.Sc yang dalam sambutannya antara lain menegaskan bahwa Pakistan mempunyai posisi strategis di wilayah Asia Selatan karena mempunyai pasar yang besar dan juga mempunyai peran penting sebagai jalan masuk perdagangan ke wilayah Asia Tengah. Oleh sebab itu, Pemerintah Indonesia memandang penting hubungan bilateral dengan Pakistan dan berkomitment untuk meningkatkan hubungan perdagangan antara kedua negara. 
 
Dijelaskan oleh Duta Besar RI bahwa dasar bagi peningkatan hubungan ekonomi dan perdagangan antara kedua negara sudah ada yang antara lain ditunjukan oleh jalinan hubungan diplomatik antara Indonesia dan Pakistan yang telah berlangsung secara erat dan baik, kekayaan alam dan sumber daya manusia yang melimpah serta posisi strategis yang dimiliki oleh kedua negara, dan adanya keinginan kuat dari kedua negara untuk lebih meningkatkan hubungan ekonomi dan perdagangan disemua sektor.
 
Duta Besar RI juga menjelaskan mengenai neraca perdagangan antara Indonesia-Pakistan yang belum maksimal karena masih terdapat sejumlah besar potensi yang belum tergali baik dalam hal perdagangan maupun investasi di kedua negara. Ditegaskan oleh Duta Besar RI bahwa Pemerintah kedua negara mempunyai komitmen yang kuat untuk meningkatkan hubungan perdagangan bilateral yang ditunjukan oleh penandatanganan Comprehensive Economic Partnership (CEP) yang mengarah kepada pembentukan Free Trade Agreement (FTA). Sementara itu, proses negosiasi Preferential Trade Agreement (PTA) Indonesia – Pakistan telah berlangsung selama lima kali dan diharapkan pada pertemuan ke-enam yang akan datang, PTA Indonesia – Pakistan dapat ditandatangani.  
 
Pada sesi presentasi, Deputy Secretary Kementerian Perdagangan Pakistan dalam paparannya menyampaikan mengenai kebijakan look to east yang dijalankan oleh pemerintah Pakistan untuk mempererat hubungan perdagangan dengan ASEAN. Indonesia adalah salah satu negara penting di ASEAN Selanjutnya juga disampaikan mengenai perkembangan negosiasi perdagangan antara Indonesia – Pakistan. Perjanjian perdagangan Indonesia – Pakistan yang ditujukan ke arah PTA dimulai sejak tahun 2005 dan sampai tahun 2009 ini telah lima kali perundingan perdagangan. Perundingan terakhir dilakukan pada bulan Februari 2009 di Islamabad. Saat ini perundingan tersebut telah mencapai tahap akhir dan diusulkan perundingan ke-enam akan diadakan di Jakarta pada bulan November atau Desember 2009 yang dilanjutkan dengan penandatanganan PTA. Agenda perundingan yang masih tersisa adalah penentuan daftar produk yang akan masuk dalam kerangka PTA yang mana kedua negara masih memerlukan pembahasan lebih mendalam. 
 
Dalam presentasi tersebut juga disinggung bahwa dengan tertundanya PTA tersebut, produk sawit Indonesia akan sulit bersaing dengan sawit Malaysia yang telah menikmati konsesi pajak di bawah perjanjian PTA Pakistan – Malaysia. Salah satu produk yang juga masih menjadi agenda pembahasa PTA adalah produk jeruk kinno Pakistan yang nampaknya sudah mulai ada kesepakatan antara Indonesia dan Pakistan. Diharapkan dengan penandatanganan PTA Indonesia Pakistan akan membuka era baru perdagangan Indonesia – Pakistan yang menguntungkan kedua negara.
 
Bapak Jack Said Gaffar sebagai pembicara kedua pada business forum dalam paparannya menjelaskan bahwa hubungan perdagangan Indonesia sejauh ini cukup dinamis dan bahkan telah menembus angka historis di atas satu milyar dolar. Namun demikian potensi yang ada sebenarnya lebih besar dari angka tersebut. Indonesia saat ini berada pada kondisi yang mapan secara ekononomi dan politik. Keberhasilan Indonesia dalam mempertahankan pertumbuhan ekonomi di tengah krisis ekonomi global dan keberhasilan Indonesia dalam menjalankan pemilu secara damai dan transparan pada bulan Juni 2009 lalu adalah salah satu indikator positif Indonesia. Sektor perbankan dan pasar modal Indonesia juga mengalami pertumbuhan dinamis dan stabil sehingga layak untuk dijajaki oleh pebisnis Pakistan.
 
Terkait dengan rencana penandatanganan PTA Indonesia  Pakistan, yang kiranya perlu dibangun dan dikembangkan adalah jalinan hubungan informal antar pebisnis kedua negara baik dalam bentuk dewan bisnis atau forum bisnis lainnya sehingga peluang dan potensi masing-masing dapat tereksplorasi. Selain itu juga perlu dikembangkan saling percaya antar kalangan bisnis kedua negara dengan mengintensifkan people to people contact antar organisasi bisnis dan individu pebisnis kedua negara.
 
Sementara itu, Mr. Iftikhar Chaudry dalam paparannya menjelaskan mengenai potensi pasar minyak nabati dan minyak lemak Pakistan. Kebutuhan minyak nabati dan lemak Pakistan sesuai data statistik tahun 2008 mencapai 3,6 juta ton. Dari jumlah tersebut produksi dalam negeri Pakistan hanya sebesar 1,6 juta ton sehingga sisanya sebesar 1,95 juta ton dipenuhi dari impor. Dari total impor minyak nabati dan lemak Pakistan tersebut produk sawit mencapai 1,82 juta ton atau 93,13% kebutuhan Pakistan. Sementara dari total kebutuhan minyak nabati dan lemak Pakistan, produk sawit mencapai 50,80%. 
 
Berdasarkan sumber impor minyak sawit, pada tahun 2008 share impor produk sawit Indonesia mencapai mencapai 42,6% dan selebihnya diimpor dari Malaysia. Dengan mulai berlakukan PTA Pakistan – Malaysia produk sawit Malaysia mendapatkan keringanan pajak 10% lebih kecil dari yang dikenakan Indonesia. Dampak keringanan pajak yang dinikmati sawit Malaysia sudah mulai terlihat dari statistik impor sawit Pakistan yang menunjukkan share Indonesia turun menjadi hanya 12,8% sejak Januari – Juni 2009.
 
Mr. Iftikhar menyampaikan bahwa dengan penandatanganan PTA Indonesia – Pakistan diharapkan Indonesia akan dapat meraih pasarnya kembali di Pakistan yang mulai tergeser Malaysia. Selain itu beliau juga mengusulkan beberapa alternatif solusi untuk meningkatkan pasar produk sawit Indonesia di Pakistan yaitu melalui kerjasama joint venture di bidang pemrosesan CPO, kredit ekspor CPO untuk jangka waktu 60 – 90 hari yang didanai melalui kerjasama perbankan dan pemasokan CPO berkualitas baik. Indonesia kiranya dapat menjajagi itu semua melalui asosiasi minyak nabati dan lemak Pakistan, yaitu PVMA dan PEORA.