Kerjasama Kemitraan Strategis Baru Asia-Afrika (NAASP)

Latar Belakang

Pada tanggal 22-23 April 2005, negara-negara Asia dan Afrika memperbaharui solidaritas mereka yang telah berjalan lama pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia Afrika 2005 di Jakarta. KTT AA tahun 2005 tersebut telah menghasilkan beberapa kesepakatan akhir, yang terpenting adalah Declaration on the New Asian African Strategic Partnership (NAASP), Joint Ministerial Statement on the New Asian African Strategic Partnership Plan of Action; dan Joint Asian African Leaders’ Statement on Tsunami, Earthquake and other Natural Disasters. Deklarasi NAASP tersebut merupakan manifestasi dari pembentukan “jembatan” intrakawasan dengan komitmen kemitraan strategis baru antara Asia dan Afrika yang mencakup tiga pilar kerjasama, yaitu solidaritas politik, kerja sama ekonomi dan hubungan sosial budaya, yang di dalamnya mencakup mekanisme interaksi antar pemerintah, antarorganisasi regional/subregional serta antarmasyarakat (people-to-people contact).

Sekilas NAASP

KTT AA tahun 2005 dihadiri oleh perwakilan dari 106 negara Asia dan Afrika yang terdiri dari 54 negara Asia dan 52 negara Afrika. KTT menyepakati sebuah mekanisme tindak lanjut untuk proses institusionalisasi melalui pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) setiap 4 tahun sekali yang dilaksanakan bersamaan dengan Business Summit, Pertemuan Tingkat Menteri setiap 2 tahun sekali, serta Sectoral Ministerial dan Technical Meeting lainnya apabila diperlukan.

Hasil-hasil yang dicapai

Sejak tahun 2005 Indonesia dan Afrika Selatan menjadi Ketua Bersama (Co-Chairs) NAASP. Dalam mengemban tugas sebagai Co-Chairs, Indonesia telah berperan aktif dalam upaya mengembangkan NAASP. Indonesia dalam kurun waktu 2006-2011 telah berhasil melaksanakan 26 program di bawah rerangka kerja sama NAASP, antara lain: NAASP-UNEP Workshop on Environmental Law and Policy tahun 2006; Asian African Forum on Genetic Resources, Traditional Knowledge, and Folklore pada tahun 2007, dan Apprenticeship Program for Mozambican Farmers pada tahun 2010. Indonesia juga menjadi tuan rumah bagi NAASP Ministerial Conference on Capacity Building for Palestine tahun 2008 yang dihadiri oleh 218 peserta dari 56 negara dan 3 organisasi internasional.

Komitmen bagi pengembangan NAASP juga dibagi bersama dengan negara-negara peserta NAASP yang lain. Menyebutkan beberapa diantaranya, Malaysia telah melaksanakan Training Course for Diplomats tahun 2007 dan Training Course in Disaster Management tahun 2008, serta China yang telah melaksanakan The 5th Training Program for Staff from African Chambers tahun 2009 dan China-Zambia Trade and Investment Forum tahun 2010.

Dengan pandangan untuk memberikan berbagai rekomendasi bagi KTT NAASP mendatang, NAASP Senior Officials’ Meeting (SOM) diadakan di Jakarta pada tanggal 12-13 Oktober 2009. Pertemuan ini berhasil membahas beberapa agenda penting, khususnya usulan the 8 Focus Areas of Cooperation yang dimaksudkan sebagai mekanisme panduan untuk mengarahkan berbagai skema kerja sama di bawah rerangka NAASP yang telah dirumuskan dalam KTT AA 2005 ke dalam beberapa kegiatan yang realistis dan bersifat berorientasi pada hasil. Delapan bidang kerja sama yang telah disepakati dalam pertemuan ini yaitu: Counter Terrorism; Combating Trans-national Organized Crime; Food Security; Energy Security; Small and Medium Enterprises; Tourism; Asian African Development University Network; serta Gender Equality and Women Empowerment. Beberapa negara Asia seperti Bangladesh, China, Jepang, Filipina, dan Thailand telah menunjukkan kesediaan untuk menjadi Champion Countries dari bidang kerja sama tersebut, berdampingan dengan Champion Countries dari negara Afrika. Indonesia sendiri menjadi Champion Country dari kawasan Asia bersama dengan Aljazair dari kawasan Afrika untuk bidang kerja sama Counter-Terrorism.

Solidaritas NAASP bagi Palestina

Indonesia dan negara-negara NAASP memandang dengan prihatin fakta bahwa bangsa Palestina menjadi satu-satunya peserta KTT Asia Afrika pertama yang belum menikmati kemerdekaan penuh. Oleh karena itu, Indonesia memprakarsai dan menjadi tuan rumah  NAASP Ministerial Conference on Capacity Building for Palestine yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 14-15 Juli 2008.

Dalam pertemuan tersebut disepakati bahwa NAASP berkomitmen untuk memberikan bantuan program pembangunan kapasitas bagi 10.000 warga Palestina dalam kurun waktu 5 tahun (2008-2013). Pada kesempatan ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menyampaikan komitmen Indonesia untuk mengambil bagian bagi perwujudan proyek tersebut dengan menyediakan pelatihan untuk 1.000 warga Palestina.

Implementasi Solidaritas dan Komitmen Pembangunan Kapasitas bagi Palestina di bawah Rerangka NAASP

Indonesia, Afrika Selatan dan Palestina selaku NAASP Capacity Building for Palestine Coordinating Unit diberikan mandat untuk memantau dan memfasilitasi berbagai upaya negara-negara NAASP yang dilakukan dalam kerangka pembanguna kapasitas bagi Palestina. Indonesia menjalankan perannya sebagai koordinator bagi Afghanistan, Azerbaijan, Bangladesh, Brunei Darussalam, China, Filipina, India, Iran, Jepang, Korea Selatan, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Pakistan, Singapura, Sri Lanka, Suriah, Thailand, Timor Leste, dan Vietnam. Hingga 2010, beberapa negara peserta NAASP telah menyampaikan laporan implementasi komitmen pembangunan kapasitas bagi Palestina, antara lain: India (102 warga Palestina), Jepang (393 warga Palestina), Korea Selatan (182 warga Palestina), Malaysia (121 warga Palestina), Singapura (16 warga Palestina). Selaku NAASP Co-Chair Asia Chapter, Indonesia juga mencatat keberhasilan Turki yang telah memberikan program pembangunan kapasitas bagi 722 warga Palestina.

NAASP Capacity Building for Palestine Coordinating Unit Meeting terakhir diadakan di Amman, Jordania, 2-3 Desember 2010 dan menghasilkan summary report yang mencakup progress report dan analytical report implementasi pembangunan kapasitas oleh negara-negara peserta NAASP. Hasil pertemuan dimaksud akan disampaikan pada pertemuan tingkat menteri dan KTT ke-2 NAASP.

Pelaksanaan Komitmen Indonesia

Indonesia terus berupaya untuk memenuhi komitmen bagi pembangunan kapasitas bagi Palestina tersebut. Hingga tahun 2010, Indonesia telah berhasil melaksanakan 30 program pelatihan bagi 126 warga Palestina. Pada tahun 2010, sejumlah program pembangunan kapasitas bagi Palestina telah dilaksanakan oleh Indonesia, antara lain: Training Course on Fire Rescue, Training on Project Cycle, Training Course on Gender Mainstreaming for Officers of the Ministry of Women’s Affairs, dan Training Course on Coal and Mineral Resources Management.

Untuk tahun 2011, beberapa program telah ditawarkan Indonesia kepada Palestina, antara lain, yaitu: Apprenticeship Program for Palestine’s Small and Medium Enterprises (SMEs) Development, Medical First Responder, Collapse Structure Search and Rescue (CSSR), School of Environmental Conservation and Ecotourism and Management (SECEM), Training on Project Cycle (Planning, Appraisal, and Management of Infrastructure Project) for the Apparatus of Palestine, dan Capacity building in welding sector.

Kesimpulan

NAASP tetap merupakan sebuah forum yang penting dan potensial bagi kerja sama antar negara-negara di kedua benua. Dalam dunia yang berubah, tentu NAASP, seperti forum internasional lainnya, memiliki kewajiban untuk mengatasi berbagai tantangan yang ada pada masa kini. Tidak diragukan lagi dalam isu Palestina, masalah kebebasan dan kemerdekaan tetap menjadi prioritas utama bagi NAASP. Bagi yang lain, isu stabilitas, sebagaimana juga kesejahteraan masyarakat Asia dan Afrika adalah merupakan tema utama bagi kerja sama yang membawa kedua benua untuk dapat bersama. Indonesia berkeyakinan bahwa dengan bekerja bersama-sama kedua benua dapat menciptakan stabilitas, perdamaian, dan kesejahteraan bagi masyarakatnya.

Last updated: 20 June 2011


  The Declaration on Palestine #KAA2015   

 The Declaration on Reinvigorating the New Asian African Strategic Partnership