Asia-Middle East Dialogue (AMED)

Gagasan pembentukan AMED

Gagasan pembentukan AMED berawal dari kunjungan PM Singapura Goh Chok Tong pada tahun 2003/2004 ke beberapa negara Timur Tengah. Dalam kunjungannya tersebut, dilakukan pembicaraan mengenai perlunya suatu forum yang dapat menjembatani dan mempertemukan kawasan Asia dengan Timur Tengah yang dinilainya belum berkembang dengan baik, walaupun hubungan bilateral masing-masing negara di kedua kawasan tersebut selama ini telah terjalin.

Tujuan AMED

AMED bertujuan untuk:

1.   Meningkatkan saling pengertian antara Asia dan Timur Tengah baik pada tingkat people-to-people maupun Pemerintah serta mengembangkan kerjasama yang saling menguntungkan antara kedua kawasan

2.   Menghasilkan rekomendasi kebijakan yang dapat menjadi pertimbangan negara anggota di bidang politik, ekonomi dan sosial serta menyusun berbagai konsep inisiatif yang dapat mempererat hubungan antara Asia dan Timur Tengah

3.   Menjadi suatu platform yang dapat menampung seluruh voices of moderation pada saat berbagai peristiwa yang terjadi di dunia telah menciptakan polarisasi pendapat mengenai agama. Dengan demikian, AMED diharapkan dapat mendorong toleransi, inter-faith understanding, dan dialogue among civilizations.

Prinsip dasar AMED

1.   AMED bersifat inclusive dan akan terfokus pada hasil-hasil yang positif untuk kerja sama yang lebih luas antara Asia dan Timur Tengah. AMED bersifat sukarela/voluntary, informal dan fleksibel dalam working principles-nya.

2.   AMED akan diselenggarakan berdasarkan pada prinsip-prinsip basic principles of international law, yaitu:

a.     Tidak campur tangan  terhadap masalah dalam negeri masing-masing.

b.     Menghormati perbedaan dan keunikan nilai-nilai sosial budaya masing-masing negara anggota.

PERKEMBANGAN AMED

PTM AMED III

1.   Thailand menjadi tuan rumah PTM AMED III yang berlangsung pada tanggal 14-16 Desember 2010. PTM Ketiga ini dihadiri oleh 39 dari 50 negara peserta AMED.

2.   Dalam PTM ini Indonesia mengirimkan enam orang panelis pada lima diskusi panel yang ada. Jumlah ini paling besar jika dibandingkan negara lain, termasuk tuan rumah (Thailand) yang hanya mengajukan lima orang panelis. Delegasi RI dalam pertemuan ini dipimpin langsung oleh Menlu RI dan beranggotakan unsur-unsur dari Kemlu, Kemnakertrans, Kemkokesra, Kemkeu, KADIN dan Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia.

3.   Menlu RI menyampaikan keynote address pada sesi pleno bidang politik dan keamanan. Pokok yang disampaikan oleh Menlu RI adalah AMED memiliki potensi untuk ikut serta mewujudkan perdamaian, stabilitas dan kesejahteraan bersama di kawasan Asia dan Timur Tengah. AMED dapat memberikan nilai tambah terhadap berbagai upaya yang dilakukan pada tingkat nasional dan regional dalam mengupayakan penyelesaian terhadap masalah-masalah seperti terorisme, trafficking in persons, piracy, keamanan pangan dan energi, kesehatan, dan lingkungan. AMED dapat berperan sebagai pelengkap kerja sama yang telah ada seperti ASEAN-GCC, Indian Ocean Rim Association for Regional Cooperation, Asia Cooperation Dialogue, dan New Asian African Strategic Partnership, serta sebagai forum untuk berbagi pengalaman dan best practices dari kedua kawasan.

Peran Indonesia dalam AMED

1.     Indonesia sebagai salah satu anggota Steering Committee AMED berperan aktif dalam persiapan maupun pelaksanaan pertemuan-pertemuan AMED.

2.     Pada 15-16 Februari 2009 di Kairo, Mesir diselenggarakan pertemuan High Level Expert Meeting on the Global Financial Crisis. Dari Indonesia hadir Adi Cahyadi, Kasubdit Kerjasama Lembaga Bretton-Woods dan WTO, Pusat Kebijakan Kerjasama Internasional, Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan dan Dr. Agusman, Executive Researcher, Biro Stabilitas Distribusi Keuangan Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan, Bank Indonesia. Dr. Agusman menjadi panelis pada topik “Possibilities of Developing the role of international institutions through the modernization of setting, reviewing and implementing the norms of International Monitoring”.

3.     Indonesia juga menghadiri Lokakarya “Best Practices on Transparency, Integrity and Combating Corruption in the Member States of AMED” di Kairo, Mesir, 6-7 Desember 2009. Pada kesempatan tersebut Indonesia menyampaikan presentasi yang menegaskan komitmen dan ketegasan Pemri untuk memerangi korupsi. Selain itu disampaikan pula mengenai, tugas dan fungsi serta wewenang KPK sebagai salah satu lembaga utama yang berperan mengatasi korupsi di Indonesia. Pada kesempatan ini Indonesia juga menggarisbawahi capaian yang telah diraih yaitu berupa penurunan indeks persepsi korupsi yang dikeluarkan oleh Transparency International dari 2,3 pada tahun 2007 menjadi 2,6 pada tahun 2008.

4.     Sebagai wujud komitmen Indonesia dalam Executive Action Plan AMED 2008/2009 pada tanggal 16-19 November 2009 di Jakarta, Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) bekerjasama dengan Bank Indonesia dan Kementerian Luar Negeri, menyelenggarakan Course on Islamic Banking bagi negara-negara anggota AMED yang dihadiri 25 orang dari 8 negara yaitu: Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Thailand, Kyrgyzstan, Kazakhstan, Turki, Aljazair. Acara serupa juga diselenggarakan pada bulan Oktober 2010 yang dihadiri oleh 25 orang dari Indonesia, Thailand dan Yordania.

Negara Peserta AMED

  1. Afghanistan
  2. Aljazeera
  3. Bahrain
  4. Bangladesh
  5. Bhutan
  6. Brunei Darussalam
  7. Cambodia
  8. China
  9. Comoros
  10. Djibouti
  11. Egypt
  12. India
  13. Indonesia
  14. Iran
  15. Iraq
  16. Japan
  17. Jordan
  18. Kazakhstan
  19. Kuwait
  20. Kyrgyzstan
  21. Laos
  22. Lebanon
  23. Libya
  24. Malaysia
  25. Maldives
  26. Mauritania
  27. Morocco
  28. Myanmar
  29. Nepal
  30. Oman
  31. Pakistan
  32. Palestine
  33. Filipina
  34. Qatar
  35. Korea Selatan
  36. Arab Saudi
  37. United Arab Emirates
  38. Singapore
  39. Somalia
  40. Sri Lanka
  41. Sudan
  42. Syria
  43. Tajikistan
  44. Thailand
  45. Tunisia
  46. Turkey
  47. Turkmenistan
  48. Uzbekistan
  49. Vietnam
  50. Yemen​