Museum Konferensi Asia Afrika, Wujud Konkret Political Geography dan Soft Power Diplomasi Indonesia

1/26/2016 Tuesday, January 26, 2016


Oleh:

Tia Sundari


Konferensi Asia Afrika merupakan konferensi intercontinental pertama yang pernah diselenggarakan di dunia. Bertempat di Bandung, ibukota Jawa Barat, konferensi tersebut dilaksanakan pada tanggal 18 – 24 April pada tahun 1955. Konferensi Asia Afrika ini lahir dari gagasan untuk menghapuskan segala bentuk kolonialisme dan peperangan yang terjadi di dunia pada saat itu.


Ide pelaksanaan konferensi ini tidak terlepas dari pemikiran Perdana Menteri Indonesia selama periode 1953 - 1955, Ali Sastroamidjojo, yang sebelumnya bertugas sebagai Duta Besar RI di Washington DC, Amerika Serikat. Selama menjalankan tugas sebagai diplomat, Beliau banyak bertukar pikiran dan pendapat dengan berbagai Kepala Perwakilan Asing khususnya dari negara-negara Asia dan Afrika. Dari berbagai pertemuan tersebut, Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo memiliki kesan bahwa kerja sama dengan negara Asia dan Afrika akan sangat memperkuat upaya untuk mencapai perdamaian dunia dalam masa Perang Dingin (Sejarah Diplomasi Indonesia dari Masa ke Masa periode 1950 -1960, 2005:420).


Dengan diprakarsai oleh 5 (lima) negara sponsor yakni Indonesia, India, Myanmar, Ceylon (Sri Lanka) dan Pakistan, maka diundanglah 24 negara yang baru dan belum merdeka di kawasan Asia dan Afrika. Ke-29 negara tersebut berkumpul dan bersepakat untuk dapat melahirkan Asia dan Afrika baru yang bebas dari segala bentuk penjajahan serta mendeklarasikan Dasasila Bandung sebagai bentuk komitmen untuk mempraktekkan toleransi dan hidup berdampingan secara damai di antara negara-negara.


Bagi Indonesia, konferensi ini penting tidak hanya sebagai bentuk komitmen untuk menghapuskan penjajahan dan menciptakan tatanan dunia yang damai tetapi juga sebagai pengejawantahan pertama dari peran aktif Indonesia di dunia internasional. Hal ini sejalan dengan apa yang telah dirumuskan dalam pembukaan UUD 1945 yang salah satu poinnya menyebutkan bahwa Indonesia turut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Untuk itu, Konferensi Asia Afrika dapat dikatakan sebagai tonggak diplomasi atau politik luar negeri bebas aktif Indonesia.


Pendirian Museum Konferensi Asia Afrika


Sebagai tonggak diplomasi Indonesia, Konferensi Asia Afrika juga telah menginspirasi banyak bangsa di Asia, Afrika dan Amerika Latin untuk memerdekakan diri dan melawan segala bentuk penjajahan. Selain itu, sejak penyelenggaraan konferensi kerjasama antara negara-negara Asia Afrika terus meningkat, sehingga peran dan pengaruh mereka dalam kerjasama internasional menjadi semakin diperhitungkan. Atas capaian – capaian tersebut di atas, muncullah keinginan dari banyak pemimpin bangsa di dunia untuk dapat mengunjungi kota Bandung dan melihat langsung tempat pelaksanaan konferensi yang sangat berpengaruh tersebut.


Hal ini lah yang kemudian mendorong Prof. Mochtar Kusumaatmadja, Menteri Luar Negeri Indonesia periode 1978-1988, untuk mendirikan Museum Konferensi Asia Afrika (Museum KAA) tepat di dalam area Gedung tempat konferensi pertama kali diadakan. Sebagai tindak lanjut, Museum KAA kemudian diresmikan pada tahun 1980, bertepatan dengan komemorasi ke-25 Tahun Konferensi Asia Afrika, di Gedung Merdeka, Bandung (www.asianafricanmuseum.org/en/museum-kaa/, diakses pada 15 Desember 2015, pkl. 11:11 WIB).


Antusiasme publik, baik itu masyarakat umum maupun dari kalangan pemerintah, terhadap pendirian Museum ini tidak bisa dikatakan biasa saja, terutama pasca perombakan area pameran tetap museum di tahun 2005. Sejak itu jumlah pengunjung mengalami peningkatkan setidaknya sekitar 10% per tahun. Dari data laporan tahunan Museum KAA diketahui bahwa sepanjang tahun 2015 saja tercatat jumlah pengunjung Museum KAA mencapai angka lebih dari 200.000 pengunjung. Jumlah tersebut belum termasuk kunjungan dari high ranking officials berbagai negara dan kunjungan berbasis penelitian yang dilakukan perorangan dan institusi baik dari dalam maupun luar negeri.


Peran Penting Keberadaan Museum KAA


Shimazu (2012), seorang pakar sejarah dan politik mengatakan bahwa dalam dunia diplomasi, keberadaan situs atau tempat pelaksanaan kegiatan diplomasi merupakan suatu geographical appellation yang mampu memetakan secara fisik batasan – batasan diplomasi internasional. Dengan diketahui atau disebutkannya tempat kegiatan diplomasi, maka secara tidak langsung akan tercipta peta mental yang menghubungkan kota atau tempat tertentu dengan suatu ruang global. Sehingga akan muncul suatu pemikiran akan pentingnya kota atau tempat kejadian dimaksud dalam suatu aktivitas diplomasi.


Penyebutan kota Bandung sebagai tempat pelaksanaan Konferensi Asia Afrika ini merupakan salah satu contohnya. Dengan adanya keterkaitan antara Bandung dan peristiwa internasional maka publik akan melihat Bandung tidak hanya sebagai tempat kejadian tetapi juga sebagai sumber referensi utama ketika ingin mencari tahu lebih mendalam mengenai Konferensi Asia Afrika.


Sebagai referensi utama, untuk itu keberadaan Museum KAA di Bandung dinilai tepat. Hal ini karena selain sebagai tempat yang dapat memberikan informasi mengenai sejarah Konferensi Asia Afrika, Museum juga dapat dijadikan sebagai sarana pengembangan pengetahuan yang menjembatani kejadian di masa lalu dengan kebutuhan masa kini.


Apalagi dalam perkembangan sejarahnya, Konferensi Asia Afrika tidak hanya berhenti pada kesepakatan yang dirumuskan dalam Dasasila Bandung saja tetapi yang juga telah bergulir ke dalam bentuk kerjasama atau kesepakatan yang jauh lebih luas lagi. Di Badan Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB), Konferensi Asia Afrika telah menginspirasi lahirnya suara kelompok Afro-Asia. Kemudian pada tahun 1972, seiring peningkatan kerjasama negara Asia, Afrika dan Amerika Latin, Majelis Umum PBB membentuk Kelompok Kerja yang khusus menangani kerjasama di antara negara berkembang. Ini yang kemudian menjadi cikal bakal South – South Cooperation (Kerjasama Selatan – Selatan). Melalui kerangka Kerjasama Selatan – Selatan inilah negara berkembang dapat saling bertukar pengalaman serta meningkatkan kerjasama di berbagai bidang dengan tujuan untuk meningkatkan kemandirian dan kapasitasnya.


Anggota Konferensi Asia Afrika sendiri mengembangkan kerangka Kerjasama Selatan – Selatan tersebut ke dalam Kemitraan Strategis Baru Asia Afrika (New Asia Africa Strategic Partnership/NAASP) yang disepakati pada komemorasi ke-50 Tahun KAA di tahun 2005. Bahkan sepuluh tahun berselang kemitraan strategis tersebut diupayakan untuk turun menjadi lebih kongkrit melalui komitmen Reinvigorating NAASP.


Dari perkembangan tersebut, tidak salah jika kemudian Presiden dan Menteri Luar Negeri Indonesia dalam peringatan 60 Tahun Konferensi Asia Afrika menyebutkan perlunya pembentukkan Asian African Center sebagai media pertukaran pengetahuan, diskusi dan perkuatan hubungan negara- negara Asia dan Afrika (https://ugm.ac.id/en/news/9906ahead.of.asia.africa.conference.commemoration:.indonesia.proposes.asia.africa.centre).


Mengacu pada fungsi Museum sebagai sumber referensi utama tadi, maka sangat dimungkinkan pula jika Asian African Center tersebut dapat dibentuk di Museum KAA. Sehingga nantinya, fungsi Museum tidak terbatas pada memamerkan benda atau koleksi yang berkaitan dengan Konferensi Asia Afrika saja. Berbagai aktivitas, selama itu berkaitan dan menunjang pada pengembangan pengetahuan sejarah Konferensi Asia Afrika maupun yang melebihinya serta menyorot aktivitas diplomasi Indonesia, dapat dilaksanakan oleh Museum KAA. Bentuknya dapat meliputi berbagai kegiatan, baik itu yang berbasis komunitas, diskusi, diseminasi kepada publik maupun beragam aktivitas diplomasi formal dan informal.


Terlebih, jika dikaitkan dengan fungsi museum sebagai salah satu aset soft power dan diplomasi budaya, Museum KAA juga membawa identitas nasional bangsa Indonesia. Melalui pemilihan koleksi yang esensial bagi perkembangan diplomasi Indonesia untuk ditampilkan, publik akan dapat melihat perkembangan sejarah Indonesia. Terutama sejarah yang berkaitan dengan value yang diusung oleh bangsa Indonesia dalam Konferensi Asia Afrika serta di dalam melaksanakan praktek diplomasi selama ini.


Penonjolan identitas bangsa, yang secara tidak langsung menonjolkan budaya bangsa, melalui museum juga penting sebagai pembuka jalan bagi negosiasi politik (Leonne: 2012). Dengan menunjukkan kepada pihak luar (international audience) ragam budaya yang Indonesia miliki dan membuat orang lain tersebut memahaminya, maka akan terbuka jalur komunikasi. Dengan komunikasi yang terjalin dengan baik inilah, maka aktivitas diplomasi dan negosiasi dapat dijalankan secara optimal.


Salah satu contoh kisah sukses museum sebagai alat diplomasi budaya dapat kita tiru dari The British Museum. Melalui pameran koleksi sejarah yang bertema Forgotten Empire: The World of Ancient Persia di tahun 2005, British Museum telah berhasil menjadi bagian dari mediator antara Iran dan Inggris ketika kedua negara mengalami tensi politik dalam isu program nuklir Iran yang dikembangkan oleh Ahmadinejad. Dalam pameran tersebut British Museum menampilkan beberapa hasil karya dan seni yang dipinjam dari beberapa Museum termasuk Museum Louvre di Paris dan yang terutama dua Museum di Iran yakni Museum Nasional di Tehran dan Museum Persepolis. Karena tingginya minat pengunjung, pameran tersebut akhirnya mampu menarik perhatian international audience sehingga berhasil ditampilkan pula di Spanyol dan Jepang (BBC: 2005).


Sejak saat itu, kerjasama yang terbangun antara British Museum dan museum – museum yang ada di Iran menjadi lebih intens, bahkan tidak hanya dengan museumnya tetapi juga dengan pemerintah Iran. Dari kerjasama tersebutlah pemerintah Inggris menyadari peran positif Museum untuk mengembangkan soft power Inggris.


Dari pengalaman tersebut, tidak menutup kemungkinan pula jika di kemudian hari Museum KAA dapat menjadi ‘mediator’ konflik yang dialami oleh Indonesia dengan negara lain, atau bahkan mediator bagi konflik yang terjadi antara negara – negara di Asia dan Afrika. Dengan demikian, kontribusi Indonesia dalam menciptakan perdamaian dunia dapat tercapai melalui aktivitas Museum KAA.


Kemudian, dalam taraf tertentu Museum KAA juga sangat berperan dalam re-contextualizing panggung diplomasi dari tingkatan politik tinggi yang abstrak ke lingkungan lokal yang lebih kongkrit. Sehingga aktivitas diplomasi yang tadinya hanya dilihat sebagai intangible activity kini menjadi nyata dan terlihat dengan adanya ruang yang dapat diperlihatkan ke publik. Oleh karena itu, Museum KAA yang terletak tepat di venue Konferensi Asia Afrika dapat dikatakan pula sebagai bentuk akuntabilitas diplomasi Indonesia di dunia internasional (Shimazu, 2012: Places in Diplomacy)


Komunikasi Harian dan Strategik Museum KAA Melalui Sahabat Museum KAA


Namun demikian, potensi Museum KAA sebagai aset geopolitik dan soft power baru akan menjadi aktual jika dibarengi dengan tiga dimensi aktivitas diplomasi publik yakni komunikasi harian, komunikasi strategik dan pengembangan hubungan yang langgeng melalui pembinaan individu kunci selama bertahun tahun serta peningkatan akses ke berbagai saluran media. Hal ini dikarenakan budaya yang membentuk suatu lingkungan akan mempengaruhi secara efektif para pembuat kebijakan jika telah melalui suatu proses yang lamban dan lama (Nye, 2004: 99-109).


Saat ini, aktivitas komunikasi harian dan strategik yang dilaksanakan oleh Museum KAA telah dijalankan melalui portal komunitas Sahabat Museum KAA yang dibentuk sejak tahun 2008 dan secara formal sejak 2011. Melalui Sahabat Museum KAA ini, Museum KAA mengembangkan apa yang dinamakan dengan konsep participatory public dan community development.


Penerapan konsep Participatory Public dan Community Development didasarkan pada keinginan agar masyarakat tidak hanya menjadi penikmat museum semata. Namun, masyarakat dapat pula berkontribusi terhadap perkembangan museum. Kontribusi masyarakat kepada museum disalurkan melalui tiga bentuk, yaitu benefaktor, volunteer, dan donatur. Prinsip ini mengacu pada kode etik Sahabat Museum Internasional yang berlaku internasional. Menurut kode etik itu, benefactor adalah masyarakat yang turut menginterpretasi koleksi museum melalui ilmu, pengalaman, dan keahliannya. Sedangkan bagi masyarakat yang mengkontribusikan waktunya untuk pengembangan program museum disebut volunteer. Selanjutnya, sejumlah aktifitas interpetasi yang berjalan mandiri didukung oleh donatur (Paper inovasi pelayanan publik Museum KAA tahun 2015).


Interpetasi koleksi Museum KAA yang pada prinsipnya bersifat intangible melalui SMKAA terbukti efektif mendorong peningkatan pemahaman masyarakat, khususnya generasi muda di Kota Bandung akan sejarah perjuangan diplomasi Indonesia. Peningkatan itu berdampak positif pada peran Museum KAA sebagai instrument diplomasi publik dalam membangun citra dan menanamkan opini publik untuk meraih dan menggalang dukungan baik dari dalam dan luar negeri.


Perlunya Dukungan Terhadap Museum KAA


Sebagaimana yang disampaikan oleh Nye (2004) bahwa kesulitan utama dari pengembangan soft power negara manapun adalah keterlibatan yang menyeluruh dari semua aktor, baik itu individu, organisasi maupun pemerintah. Oleh sebab itu, beragam upaya Museum KAA dalam mengkomunikasikan pesan kepada masyarakat (baik lokal maupun internasional) melalui komunitas Sahabat Museum KAA, baru akan memiliki efek besar jika dibarengi dengan leadership institusi atau negara dalam mengembangkan dan mempromosikan itu semua.


Berbagai analis studi Hubungan Internasional kini menyatakan bahwa sudah bukan saatnya lagi negara bermain sebagai aktor tunggal dalam berdiplomasi. Dengan perkembangan teknologi dan informasi seperti sekarang sudah menjadi keharusan pula bagi negara untuk melakukan banyak terobosan dengan menggandeng lebih banyak stakeholders dalam berdiplomasi. Museum bisa menjadi salah satunya.


Oleh karena itu, memperkuat positioning Museum KAA sebagai salah satu aset geopolitik dan soft power diplomasi Indonesia melalui pengembangan sumber daya manusia, infrastruktur dan finansial menjadi hal yang sangat perlu dilakukan. Selain itu, guna memperdalam fungsi Museum KAA sebagai sumber referensi sejarah dan perkembangan Konferensi Asia Afrika yang berorientasi masa depan, maka pembentukkan Asian African Center di Museum KAA juga dirasa sebagai langkah pengembangan Museum yang sangat baik. Dengan mempertimbangkan potensi yang ada, tidak ada waktu yang lebih tepat lagi untuk mulai mengembangkan Museum KAA dibandingkan dengan saat ini.


* * *



Referensi


BBC. “Timeline: Iran Nuclear Crisis”. BBC News. 24 September 2005. http://news.bbc.co.uk./1/hi/world/middle_east/4134614.stm (diakses pada 16 Desember 2015).

Departemen Luar Negeri. 2005. Sejarah Diplomasi Indonesia dari Masa ke Masa. Periode 1950 – 1960. Jakarta: Departemen Luar Negeri.

Hoogwaerts, Leonne. 2012. What Role Do Museums and Art Institution Play in International Relations Today. http://www.culturaldiplomacy.org/academy/content/pdf/participant-papers/2012-08-acd/what-role-do-museums-and-art-institutions-play-in-international-relations-today-leanne-hoogwaerts.pdf (diakses pada 16 Desember 2015).

Nye, Joseph. 2014. Soft Power: A Mean to Success in World Politics. New York: Public Affairs.

Paper inovasi pelayanan publik Museum KAA tahun 2015.

Shimazu, Naoko. 2012. Places in Diplomacy published in Political Geography Journal. 31st ed page: 335-336.

www.asianafricanmuseum.org/en/museum-kaa/, diakses pada 15 Desember 2015, pkl. 11:11 WIB

http://ssc.undp.org/content/ssc/about/Background.html (diakses pada 18 Desember 2015 pkl. 11:10 WIB)

http://www.thejakartapost.com/news/2015/04/09/ri-suggest-asia-africa-center-strengthen-relationship.html (diakses pada 18 Desember 2015 pkl. 11:47 WIB)

http://thediplomat.com/2015/04/did-indonesia-revive-the-asia-africa-strategic-partnership/ (diakses pada 18 Desember 2015, pkl. 11.56 WIB)

https://ugm.ac.id/en/news/9906-ahead.of.asia.africa.conference.commemoration:.indonesia.proposes.asia.africa.centre (diakses pada 18 Desember 2015, pkl. 12.02 WIB)