LOKAKARYA KE-14 MENGENAI PENGELOLAAN POTENSI KONFLIK DI LAUT CHINA SELATAN KE-14 (LOKAKARYA LCS)BATAM, 24-28 NOVEMBER 2004

11/24/2004

No. 74/PR/XI/2004

Lokakarya ke-14 mengenai “Pengelolaan Potensi Konflik di Laut China Selatan” (Lokakarya LCS) telah dibuka oleh Gubernur Propinsi Kepulauan Riau, Ismeth Abdullah pada tanggal 24 November 2004. Lokakarya yang difasilitasi oleh Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) Departemen Luar Negeri bekerjasama dengan Pusat Studi Kawasan Asia Tenggara diadakan di Batam, Kepulauan Riau, dari tanggal 24-28 November 2004. Lokakarya LCS dihadiri oleh para experts dari berbagai Negara di kawasan Laut China Selatan seperti Brunei Darussalam, Cambodia, Chinese-Taipei, Indonesia, Malaysia, the Philippines, RRC, dan Vietnam.

Lokakarya ini diprakarsai oleh Indonesia sejak tahun 1990. Sebagai negara yang tidak terlibat dalam klaim tumpang-tindih di Laut China Selatan. Indonesia mengambil inisiatif untuk memberikan kontribusi bagi penciptaan situasi yang kondusif di kawasan Laut China Selatan dengan mengalihkan potensi konflik di kawasan tersebut menjadi potensi kerjasama yang dapat menguntungkan semua pihak.

Dalam sambutannya Kepala BPPK menyampaikan bahwa Lokakarya ini telah diadakan selama 14 kali dan bersifat informal. Dalam perkembangannya, tanpa mengubah tujuan utamanya. Lokakarya telah memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam mempertahankan perdamaian dan stabilitas di kawasan Laut China Selatan. Dalam kaitan ini, telah tercatat beberapa proyek kerjasama yang telah disetujui memasuki tahap implementasi. Di samping itu, Lokakarya tersebut telah meningkatkan kerjasama dan menciptakan “sense of community” di antara para peserta.

Dalam pidato pembukaan, Gubernur Propinsi Kepulauan Riau menyampaikan bahwa kota Batam sebagai jalur pelayaran yang berkembang sebagai pusat industri, perdagangan dan pariwisata juga telah berpartisipasi sebagai tuan rumah dari kegiatan yang bersifat regional dan internasional di bidang lingkungan laut di kawasan Laut China Selatan. Gubernur juga mengharapkan agar Lokakarya ini dapat memberikan motivasi yang positif bagi kerjasama lebih yang lebih baik dan meningkatkan dialog dan kemitraan di antara Negara-negara di kawasan Laut China Selatan. Gubernur juga menyatakan apresiasinya atas pemilihan kota Batam sebagai tuan rumah Lokakarya untuk kedua kalinya.

Dalam perkembangannya pelaksanaan Lokakarya Laut China Selatan  (LCS) mendapatkan penghargaan “ASEAN Award” dan bahkan pada KTT para kepala Negara ASEAN atas fungsinya membangun Confidence Building Measures (CBM) yang diakui oleh ARF sehingga paling tidak telah mampu meredam sumber konflik yang dapat muncul dari pertentangan antar claimants. Lokakarya LCS telah menjadi pioneer dalam mempromosikan upaya-upaya dialog dan mendorong pentingnya membangun kerjasama. Salah satu bentuk keinginan peserta untuk terus mengembangkan kerjasamanya adalah pelaksanaan LCS ke-14.

Lokakarya ini diharapkan dapat melakukan: (1) review terhadap proyek-proyek kerjasama, baik yang telah disetujui maupun belum disetujui; (2) memformulasi langkah-langkah untuk meningkatkan implementasi program kerjasama agar dapat terselenggara dengan lebih baik; (3) menegaskan kembali komitmen untuk meningkatkan fungsi Lokakarya sebagai lembaga”tink tank” dalam masalah-masalah Laut China Selatan; (4) menindaklanjuti pembentukkan  “special fund”  yang telah disetujui pada lokakarya LCS ke-13; (5) meningkatkan pengembangan kerjasama bersama khususnya mengenai pengelolaan sumber daya di laut melalui kerjasama penelitian; (6) merumuskan dan menemukan langkah-langkah baik secara individu maupun kolektif untuk menciptakan situasi umum yang lebih baik di Laut China Selatan melalui pelaksanaan proyek-proyek  yang telah disepakati.

 
Jakarta, 24 November 2004