​​​​​​​​​Menlu RI: Yakini Kekuatan Diplomasi RI Mampu Beri Solusi Permasalahan Global

 
 
 
 
 
 
 
 
 

Kami memiliki keyakinan tak tergoyahkan mengenai kekuatan diplomasi serta kemampuannya untuk menemukan solusi berbagai permasalahan dan tantangan yang dihadapi masyarakat bangsa-bangsa. Demikian optimisme yang disampaikan Menlu RI Marty M. Natalegawa mengawali Pernyataan Pers Tahunan Menlu RI tahun 2014 di Ruang Nusantara, siang ini (07/12).

"Diplomasi haruslah ditempatkan sebagai jawaban terhadap berbagai tantangan, dan, tentunya, menggunakan diplomasi untuk memanfaatkan berbagai peluang yang terbentang di hadapan kita".

Di hadapan para hadirin dan undangan Pernyataan Pers Tahunan 2014, Menlu Marty menegaskan bahwa menyambut tahun 2014 yang penuh tantangan, Kementerian Luar Negeri akan mengusung prioritas utama yaitu pemeliharaan perdamaian dan keamanan di kawasan.

"Karena, sesungguhnya, hal ini merupakan prasyarat bagi kelanjutan kemajuan ekonomi dan kemakmuran kawasan", tegas Menlu RI.

Hal ini tentu bukan perkara yang mudah, khususnya karena saat ini dunia menyaksikan berbagai gejala yang nampak saling bertentangan, khususnya dalam menjaga kestabilan dan perdamaian yang ada.

Pada saat kawasan kita, Asia Tenggara, contohnya, memasuki tahap akhir menuju Komunitas ASEAN 2015, kawasan yang lebih luas, justru menunjukkan tanda-tanda peningkatan ketegangan dan ketidakpastian. 

Juga, pada saat perekonomian di kawasan semakin terjalin erat dan saling tergantung satu dengan lainnya, kita justru melihat tanda-tanda semakin berkurangnya rasa saling percaya atau trust deficit

"Lagi, pada saat manfaat cara penyelesaian sengketa secara damai jelas terlihat, justru, terdapat tanda-tanda pendekatan unilateral menjadi pilihan".

Oleh karena itu, kebijakan politik luar negeri Indonesia pada tahun 2014 akan terus ditujukan untuk mengatasi tiga bentuk tantangan utama yang menurut Indonesia dihadapi kawasan Asia Pasifik, yaitu: berkurangnya rasa saling percaya; sengketa wilayah; dan perubahan geo-politik dan geo-ekonomi.

Pada intinya adalah bagaimana mengubah “trust deficit” menjadi “strategic trust”, ujar Menlu Marty.

Laut Cina Selatan dan Perdamaian di Kawasan


Sesuai dengan prinsip kebijakan politik luar negeri “bebas aktif”, Indonesia akan terus memajukan terciptanya sebuah kawasan yang ditandai oleh “keseimbangan dinamis (dynamic equilibrium)”.

"Keamanan dan kemakmuran yang bersifat langgeng hanya dapat diraih jika dinikmati secara bersama oleh seluruh negara kawasan, dan bukan secara sepihak".

Kesemuanya ini hanya akan dapat dicapai jika pertama dan utamanya, kita berhasil mewujudkan Komunitas ASEAN 2015, ujarnya mantap.

Menlu Marty juga menyoroti situasi di kawasan, utamanya di Laut Cina Selatan. "Dalam hal pemeliharaan perdamaian dan stabilitas di kawasan, apakah melalui ASEAN atau forum lainnya, diplomasi Indonesia tidak akan kenal henti".

Pengelolaan potensi konflik di Laut China Selatan, khususnya perkembangan di tahun 2013, menurut Menlu RI, banyak memberikan harapan.

Peran penting diplomasi memang jelas terlihat dengan tercapainya kesepakatan antara RRT dan ASEAN untuk memulai konsultasi formal mengenai tata perilaku atau Code of Conduct di Laut China Selatan.

"Tidak diragukan, perundingan yang berat di hadapan kita. Namun, Indonesia yakin bahwa dengan kemauan politik yang kuat, suatu kemajuan dimungkinkan".

Perkembangan setahun terakhir di Laut Cina Selatan menurut Menlu RI juga perlu untuk ditularkan di kawasan Asia Timur dan di Semenanjung Korea.

Tidak dapat dipungkiri, negara-negara di Asia Timur membutuhkan peningkatan rasa saling percaya dan penyelesaian perselisihan melalui cara-cara diplomatik yang damai.

Oleh karena itulah, sepanjang tahun 2013, Indonesia telah memulai pembicaraan dengan negara-negara kawasan mengenai sebuah kerangka kerja sama yang serupa dengan Treaty of Amity and Cooperation yang berlaku secara luas.


Diplomasi Total di Panggung Multilateral

Pada tataran multilateral, upaya diplomasi RI juga telah membuahkan hasil yang nyata. Hal ini terlihat dalam penanganan isu senjata kimia di Suriah, dan juga perundingan 5+1 dengan Republik Islam Iran. 

Pada tahun 2014 ini, tutur Menlu RI, Indonesia kembali akan mendorong penyelesaian diplomatik atas konflik di Suriah serta tentunya dalam mewujudkan hak-hak sah bangsa Palestina yang sudah terlalu lama tertunda. 

Terkait Palestina, tahun ini, Indonesia akan terus memberikan dukungan melalui peningkatan kapasitas kelembagaan Palestina.

Selain itu, dengan menjadi tuan rumah Conference on Cooperation among East Asian Countries for Palestinian Development (CEAPAD), Indonesia juga akan menggalang dukungan serupa dari negara-negara Asia Timur.

Dalam bidang perlucutan senjata, Indonesia bersama Hungaria selaku Ketua Bersama akan berupaya mendorong pemberlakuan Comprehensive Nuclear Test Ban Treaty (CTBT), terus memperjuangkan universalisasinya serta pemberlakuannya dalam waktu dekat. 

Tidak berhenti sampai di situ, sebagai negara Annex 2, Indonesia yang telah meratifikasi Traktat pada tahun 2012, akan terus mendorong 8 negara Annex 2 lainnya untuk melakukan hal yang sama.

Tahun mendatang, lanjut Menlu Marty, tentunya akan dipenuhi berbagai tantangan dan ketidakpastian. Namun, Indonesia yakin dapat menyongsong tahun ini dengan penuh optimisme dan harapan.

"Indonesia akan senantiasa menempatkan diplomasi dan dialog sebagai pilihan utama dalam mengatasi berbagai tantangan". (Sumber: Dit. Infomed/PY)