Ceramah Umum di Depan Taruna Akademi Militer dan Taruna Integratif “Indonesia dalam Perkembangan Global” , Magelang, 24 Maret 2008

 3/24/2008

CERAMAH UMUM MENTERI LUAR NEGERI
REPUBLIK INDONESIA


DI DEPAN TARUNA AKADEMI MILITER DAN
TARUNA INTEGRATIF


“INDONESIA DALAM PERKEMBANGAN GLOBAL”


AKADEMI MILITER, MAGELANG
24 MARET 2008


 
Yang terhormat, Gubernur Akademi Militer, Mayor Jenderal TNI Sabar Yudo;
Para Perwira, Pengasuh Akademi Militer;
Para Taruna Akademi Militer dan Akademi TNI yang saya cintai dan saya banggakan,
Para pejabat Departemen Luar Negeri,
Bapak-bapak dan Ibu-ibu undangan yang saya hormati;

Assalaamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Selamat sore dan salam sejahtera bagi kita semua,


Pertama-tama, saya sampaikan bahwa sebenarnya ceramah ini sudah dipersiapkan pada tahun lalu. Namun karena satu dan lain hal, maka baru hari ini saya dapat menyampaikan ceramah umum ini.

Sungguh merupakan suatu kehormatan bagi saya untuk dapat berkunjung ke kampus Akademi Militer Magelang.  Dalam catatan sejarah perjuangan Republik Indonesia, kota Magelang dikenal sebagai ”kota tentara” yang telah melahirkan banyak tokoh pemimpin bangsa. Karena di kota inilah, tepatnya di Akademi Militer ini, digembleng para calon professional soldiers.

Tujuan utama kunjungan ini adalah, selain bertemu dan berkenalan dengan para Taruna Akademi Militer dan Taruna Integratif, juga untuk bertukar-pikiran, khususnya mengenai tantangan berat yang kita hadapi bersama pada era globalisasi dan informasi ini. Melalui forum ini kita dapat berbagi pengalaman dan pemikiran dalam merumuskan strategi yang tepat dalam menjawab tantangan dan memanfaatkan peluang yang ada.

Guna mendukung keberhasilan dalam melaksanakan tugasnya kelak sebagai professional soldiers, menurut saya, para taruna selain harus menguasai pengetahuan strategis-teknis pertahanan dan peperangan, juga harus memiliki wawasan internasional secara memadai.

Usainya Perang Dingin telah mengubah struktur politik dunia dari bipolar menjadi multipolar dengan munculnya kekuatan-kekuatan baru dalam percaturan global seperti Cina dan India.

Walaupun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa kekuatan Amerika Serikat tetap dominan di dalam konstelasi global yang ditunjukkan dengan arah kebijakan luar negerinya dengan menentukan sepihak dalam menyelesaikan masalah-masalah dunia. Sebagai contoh, sikap Amerika Serikat dalam rangka “Perang Melawan Terorisme” melakukan invasi terhadap Afghanistan tahun 2001 dan Irak tahun 2003.

Dominasi Amerika Serikat di kancah internasional tidak dapat dilepaskan dari kekuatan ekonomi dan militernya. Besaran ekonomi AS (tahun 2007) sekitar USD 13,86 trilyun, dengan anggaran belanja untuk pertahanannya (tahun 2006) sekitar USD 481,4 milyar (berarti sekitar Rp. 4.800 trilyun atau sekitar 5 kali lipat dari total APBN Indonesia tahun 2008). Anggaran tersebut belum termasuk anggaran untuk perang di Irak maupun anggaran untuk melakukan disain dan melakukan uji coba senjata nuklir.

Tetapi fakta menunjukkan, bahwa tidak selamanya negara yang digdaya (super power) dengan mudah mendikte konfigurasi internasional. Kebijakan AS menginvasi Afghanistan dan Irak di atas saat ini tidak mendapat simpati internasional, bahkan rakyat dalam negeri AS mulai meragukan keberhasilan unilateralisme dalam pencapaian solusi yang komprehensif dan permanen dalam menciptakan stabilitas dunia.  

Di tengah berbagai gejolak di banyak kawasan di dunia seperti di Timur Tengah dan Afrika, kawasan Asia Tenggara cenderung  stabil, aman dan damai. Stabilitas di kawasan ini tidak terjadi dengan sendirinya, akan tetapi telah lama dirintis oleh Indonesia bersama negara-negara lain di Asia Tenggara dengan membentuk ASEAN. Selama lebih dari 40 tahun, Indonesia, secara aktif dan sengaja membangun kawasan Asia Tenggara yang stabil dan damai dengan sokoguru melalui ASEAN. Untuk itulah dalam perkembangannya, Indonesia memandang penting untuk membentuk ASEAN Community dengan 3 pilar: ASEAN Security Community, ASEAN Economic Community dan ASEAN Socio-Culture Community.

Terciptanya Asia Tenggara yang aman dan stabil merupakan salah satu dari dibangunnya kebiasaan untuk melakukan dialog dan konsultasi di antara negara-negara anggota ASEAN dalam menyelesaikan permasalahan di antara mereka. Inilah keberhasilan Diplomasi Indonesia.  

Dalam kaitan itu, kondisi lingkungan negara sekitar Indonesia yang stabil dan aman, merupakan faktor penting guna menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pembangunan ekonomi nasional guna mensejahterakan masyarakat Indonesia.

Selama ini kerjasama ekonomi ASEAN telah mengalami kemajuan cukup besar yang ditunjukkan dengan peningkatan di dalam perdagangan dan investasi intra-ASEAN. Guna lebih meningkatkan kerjasama intra-ASEAN dan mendorong masuknya investasi dari kawasan lain di luar ASEAN, Indonesia bersama dengan negara anggota ASEAN lainnya telah menyepakati pembentukan ASEAN Economic Community tahun 2015.

Selain itu ASEAN juga telah melakukan upaya-upaya peningkatan perdagangan dan investasi dengan mitra dialog seperti: dengan Cina, India, Jepang, Korsel, Australia, Selandia Baru, Uni Eropa, Amerika Serikat dan lain-lain.  Dalam konteks ini, berbagai skema kerjasama telah dibentuk antara lain: Framework Agreement on Comprehensive Economic Cooperation between ASEAN and China, Framework for Comprehensive Economic Cooperation between ASEAN and Japan dan lainnya.

Bapak-bapak, Ibu-ibu dan para taruna yang saya banggakan,

Setelah terjadinya krisis ekonomi Asia yang melanda Indonesia tahun 1997, banyak pengamat yang meramalkan akan terjadinya “chaos” yang melanda Indonesia sebagaimana terjadi di Eropa Timur. Mengingat tidak saja pertumbuhan ekonomi yang negatif (-13,5%) diikuti dengan inflasi sebesar 80%, namun juga krisis ekonomi telah merambat pada krisis sosial dan krisis politik. Pada saat itu diperkirakan Indonesia akan mengalami disintegrasi. Akan tetapi Indonesia dapat mengatasi berbagai krisis termasuk kemungkinan terjadinya desintegrasi. Dalam pusaran krisis, kita sadar bahwa yang bisa menyelamatkan Indonesia terletak pada “reformasi”. Kita menerapkan reformasi baik di bidang politik, ekonomi dan sosial yang mendorong transisi menuju sistem demokrasi. Tambahan pula dukungan masyarakat Islam yang moderat serta perkembangan ekonomi yang progresif , sekaligus telah mematahkan dua adagium tentang dikhotomi Islam dan demokrasi, dan dikhotomi pertumbuhan ekonomi dan kemajuan politik.

Keberhasilan Indonesia dalam mengatasi berbagai tantangan tersebut diakui oleh masyarakat internasional di antaranya presentasi berjudul “Indonesia Rising” oleh Andrew Steer, mantan Country Director Bank Dunia di Jakarta, di depan   Presiden Yudhoyono dan Kabinet Indonesia Bersatu. Selain ditunjukkan kemajuan ekonomi Indonesia setelah krisis – dengan pertumbuhan ekonomi tahun lalu sekitar 6,3% -  juga kemajuan demokrasi di Indonesia antara lain ditunjukkan pemilu yang demokratis, munculnya institusi-intitusi demokrasi serta otonomi daerah.

Bapak-bapak, Ibu-ibu dan para taruna yang saya banggakan,

Selain berbagai kemajuan yang dicapai di dalam negeri dan peran Indonesia yang menjadi penggerak ASEAN, Indonesia juga meraih posisi yang lebih baik dalam kontribusinya menyelesaikan masalah-masalah global yang strategis. Indonesia berupaya memberikan sumbangsih bagi permasalahan di Palestina, Lebanon dan Timur Tengah agar proses tercipta perdamaian di kawasan tersebut. Indonesia juga secara aktif mendorong penyelesaian berbagai masalah seperti: kemiskinan, kesehatan, pendidikan yang masih dihadapi oleh sebagian besar negara-negara di Asia Afrika melalui penyelenggaraan KTT Asia Afrika tahun 2005 di Bandung. KTT Asia Afrika “Kedua” tersebut telah menghasilkan deklarasi “the New Asian African Strategic Partnership” yang merupakan kerangka kerjasama di antara negara-negara Asia Afrika dalam hal menyelesaikan berbagai masalah politik, ekonomi, sosial di antara mereka.

Kontribusi Indonesia dalam menyelesaikan masalah-masalah regional dan global tersebutlah, maka Indonesia saat ini menjabat anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB.

Postur global Indonesia dihargai di kancah internasional karena selain peran aktif Indonesia dalam upaya membangun kawasan yang stabil serta kontribusinya yang penting dalam berbagai isu global; Indonesia menerapkan politik luar negeri yang bebas dan aktif yang menjadikan Indonesia mempunyai integritas. Politik luar negeri Indonesia bukan hanya didasarkan pada kepentingan untung rugi atau kepentingan sesaat. Politik luar negeri kita selain bersifat pragmatis, juga menjujung tinggi nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang dipegang bangsa Indonesia serta prinsip-prinsip hubungan internasional yg berlaku.

Postur luar negeri suatu negara ditentukan oleh kondisi domestiknya. Kebijakan luar negeri Indonesia yang tangguh juga sangat ditentukan oleh kondisi domestiknya, seperti kemajuan demokrasi, perkembangan ekonomi Indonesia untuk kesejahteraan rakyat banyak.  Untuk itu penciptaan lapangan kerja, penghapusan kemiskinan sama pentingnya dengan penerapan “rule of law” dan “human rights”. Baik pembangunan demokrasi maupun pembangunan ekonomi bukan saja ditujukan untuk mendapatkan postur luar negeri Indonesia yang kokoh, namun pembangunan tersebut memang merupakan tuntutan rakyat.  

Bapak-bapak, Ibu-ibu dan para taruna yang saya banggakan,

Dari paparan ringkas ini dapat disimpulkan bahwa kekuatan suatu negara itu multidimensional. Sumber-sumber kekuatan negara juga multidimensional, dan saling terkait. Kondisi dalam negeri mempengaruhi postur luar negeri suatu negara. Sebaliknya postur luar negeri yang kuat dan diapresiasi di mata internasional, mendorong dan memperkokoh kekuatan dalam negeri.

Hal penting lainnya adalah setiap negara berkompetisi untuk memperkuat postur luar negerinya. Bagi negara yang menyiapkan diri dengan lebih baik akan mendapatkan manfaat atas persaingan tersebut.  

Dalam kompetisi global sekarang ini, bangsa yang unggul tidak lagi cukup bersandar pada kekayaan alam. Lebih utama adalah keunggulan individu-individu warganya.  Justru sumber daya manusia merupakan kunci dari keunggulan bangsa.  Lihat saja negara yang tidak punya sumber daya alam seperti Singapura atau Korea Selatan yang justru maju karena keunggulan sumber daya manusianya; termasuk pendidikan, manajemen dan penguasaan teknologi.

Kita harus akui bahwa ada nilai-nilai budaya unggul yang masih harus kita bangun di Indonesia.  Misalnya budaya disiplin dan semangat kerja keras.  Bagi taruna, maka kerja keras berarti belajar, belajar dan belajar. Tokoh-tokoh militer besar seperti Napoleon, Jenderal MacArthur selain memang ”jago perang” juga adalah ”pelahap” buku. Mereka mematangkan ”keahlian perang” dengan wawasan yang luas.  

Demikian paparan saya.  Terima kasih atas perhatian yang saudara-saudara berikan.

Wassalaamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.