Peragaan Batik Lurik Warnai Malam Indonesia di Berlin

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Peragaan Batik Lurik Warnai Malam Indonesia di Berlin
Bertempat di Gedung yang cukup bergengsi di Berlin – Rote Rathaus- pada tanggal 10 Oktober 2009, KBRI Berlin bersamasama dengan perwakilan RI lainnya di Jerman (KJRI Hamburg dan KJRI Frankfurt) bekerjasama dengan Pemerintah Kota Berlin melakukan promosi budaya dan wisata – Malam Budaya Indonesia - di hadapan sekitar 350 warga Jerman yang memadati gedung pertunjukan tersebut. Bahkan, panitia terpaksa harus menolak permintaan banyak warga Jerman yang ingin menyaksikan malam budaya tersebut karena keterbatasan kapasitas tempat duduk. Layarpun akhirnya dipasang di luar ruang pertunjukan untuk memenuhi keinginan tersebut.
 
Kegiatan promosi dimaksud dilakukan sekaligus dalam rangka memeriahkan acara 2 tahunan Asia Pacific Week yang diselenggarakan oleh Kota Berlin, selain penyelenggaraan kegiatan terkait lainnya seperti Indonesian Business Day tanggal 12 Oktober 2009.
Agar penampilan malam budaya lebih fokus, KBRI Berlin memang sengaja mengambil tema dari daerah tertentu di Indonesia “Enchanted Java Islands : A Dynamic Journey from Past to Present” yang menggambarkan kekayaan budaya daerah tersebut baik yang tradisional maupun yang moderen. Dengan demikian semua sajian pada malam itu bernuasa Jawa baik Jawa Barat, Jawa Tengah maupun Jawa Timur.
Hadirin yang memenuhi gedung pertunjukan tersebut sejenak dibuat seperti sedang berada di tanah Jawa tempo dulu dengan sajian Tari Merak, Tari Rampak Kendang, Tari Puspito, Tari Jejer Jaran Dawuk, kemudian berpindah ke suasana Jawa yang moderen dengan sajian Musik Etnik, Peragaan Busana Batik Lurik, serta nyanyian keroncong.
Peragaan Busana Batik Lurik oleh para peragawati dan peragawan Jerman karya perancang Indonesia yang telah lama bermukim di Jerman, Lina Berlina Reichel memberikan warna tersendiri pada malam budaya tersebut karena Batik Lurik tidak hanya pantas dipakai oleh orang Indonesia tapi juga sangat pas untuk dikenakan oleh warga negara lain, khususnya Jerman.
 
Kuasa Usaha Ad Interim Diah W.M. Rubianto yang mewakili Dubes Eddy Pratomo pada malam itu menyampaikan kata sambutan dengan mengharapkan agar acara Malam Indonesia dapat semakin mendekatkan “people to people” dan saling perngertian kedua masyarakat yang terpisahkan dengan jarak geografi yang cukup jauh. Acara dimaksud juga diharapkan meningkatkan kunjungan turis Jerman ke Indonesia.
 
Pada malam tersebut, sebagai bentuk kepeduliaan dengan warga Sumatera Barat yang sedang dilanda gempa beberapa waktu lalu dilakukan moment of silence dan dibuka sumbangan bagi para korban gempa tersebut. Disamping itu, suatu yayasan yang bergerak di bidang sosial “Kinderkunst Museum” pada malam tersebut mendukung acara dengan menjual buku berjudul “Tsunami” yang hasil penjualannya disumbangkan untuk para korban Gempa Sumatera Barat.
Tidak lupa wisata kuliner Indonesia juga disajikan kepada para pengunjung setelah selesainya acara Malam Budaya tersebut.
 
Berlin, 10 Oktober 2009.