MENGUPAS PROSPEK PLURALISME BAGI DEMOKRASI DI INDONESIA DALAM FRANKFURT BOOK FAIR 2015

​Keikutsertaan Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair  (FBF) 2015 merupakan kesempatan berharga untuk mempromosikan dan kekayaan khazanah budaya Indonesia, utamanya dunia literature. Dengan tema 17.000 islands of imagination, tentunya pluralisme menjadi​ karakter utama yang ditonjolkan pada pameran buku terbesar di dunia ini. Mengingat salah satu fungsi dunia literature Indonesia, terutama dalam konteks partisipasi Indonesia di FBF ini adalah untuk memberikan public education mengenai bagaimana kita bisa mendukung budaya pluralism ini, maka Kedutaan Besar Republik Indonesia di Berlin menyelenggarakan talk-show dengan tema “The Future of Pluralism in Indonesia” pada tanggal 16 Oktober 2015 di Paviliun Indonesia, FBF. Talk show ini mengupas mengenai prospek masa depan pluralisme Indonesia, dalam konteks: sejauh mana dunia sastra Indonesia mewakili masyarakat mainstream, bagaimana dunia pendidikan khususnya pendidikan agama mengatasi kecenderungan intoleransi yang semakin berkembang di masyarakat, dan pelajaran apa yang dapat dipetik oleh Jerman dan Indonesia dalam mengintegrasikan pluralism di dalam masyarakatnya.


Hadir sebagai narasumber pada talk show ini adalah tokoh dialog lintas agama Indonesia, Prof. Dr. Franz Magnis Suseno, SJ (Romo Magnis), bersama dengan beberapa akademisi Indonesia dan Jerman lainnya, yaitu: Prof.Dr.  Christophe Antweiler (Institute of Oriental and Asian Studies University of Bonn), Prof. Werner Gephart (Käte Hamburger Centre for Advanced Studies In Humanities “Law as Culture”), Dr. Siswo Pramono (Deputy Chief of Mission KBRI Berlin), Dr. Luthfi Assyaukanie (Universitas Paramadina). Talk Show dipandu oleh Dr. Martin Ramstedt, chief editor dari seri buku “Religion and Society in Asia”.


Sebagai awal diskusi Dr. Siswo Pramono, mengkaitkan tema pluralisme dengan dunia sastra Indonesia. Tradisi pluralisme telah ditanamkan ke masyarakat melalui karya sastra sejak 600 tahun yang lalu. Kitab Sutasoma, karya Empu Tantular, menanamkan semangat pluralisme dan sinkretisme kepada umat Siwa-Budha yang merupakan mayoritas di Nusantara (Majapahit) pada saat itu, dan kemudian menginspirasi Soekarno untuk menjadikan Bhinneka Tunggal Ika menjadi moto/mantra dari bangsa Indonesia. Prinsip tersebut terus dilangsungkan oleh masyarakat modern Indonesia saat ini, yang mayoritas moderate-muslims. Dr. Pramono juga membahas buku “Wali Songo” karya Prof. Agus Sunyoto (tradisi NU). Dalam buku tersebut, juga dikatakan bahwa masyarakat “Islam Nusantara” juga berkembang pesat dengan menginternalisasikan tradisi pluralism dan “asimiiasi budaya” sejak siwa-Buda hingga saat ini. Refleksi dari pluralisme dalam masyarakat Indonesia modern yang demokratis dewasa ini antara lain dapat dilihat dari dukungan masyarakat majemuk di Jakarta (sejauh ini) terhadap Gubernur DKI Jakarta yang notabene berasal dari minoritas Tionghoa-Kristen. Ditekankan pula bahwa bangsa Indonesia bersatu bukan hanya karena kesamaan nilai-nilai keagamaan/kepercayaan, tetapi juga karena adanya common interest sebagai nation-state.


Prof. Dr. Magnis Suseno sependapat dengan Dr. Pramono bahwa meskipun bahaya fundamentalisme dan ekstrimisme sedang mengancam pluralisme di Indonesia, namun fondasi persatuan bangsa yang plural sudah dikuat sejak adanya komitmen bersama (Sumpah Pemuda) sebelum kemerdekaan. Dicontohkan pula kokohnya fondasi tersebut di mana meskipun Islam garis keras di Indonesia cukup agresif, namun mereka tidak dapat memungkiri hak konstitusional dari pemeluk agama lainnya yang lebih minor.


Mengenai perkembangan Islam moderat di Indonesia, Profesor Dr. Antweiler mengutarakan mengenai kontribusi Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai tokoh Islam moderat dan kosmopolitan dalam pembangunan demokrasi di Indonesia paska Soeharto yang tidak terkungkung dalam pemikiran politik Indonesia tradisional. Dr. Luthfi Assyaukanie menyampaikan perkembangan yang sangat signifikan dalam dua tahun terakhir, di mana pergantian Presiden, juga mempengaruhi religio-political landscape Indonesia. Sebagai contoh dalam pergantian kepemimpinan di organisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam satu dekade terakhir, di mana pada tahun 2005 MUI sempat mengeluarkan fatwa yang dapat ditafsirkan anti pluralisme dan liberalism dan saat ini MUI mulai bersikap positif terhadap pluralisme.


Mengingat salah satu tujuan diskusi adalah untuk berbagi pengalaman dan menarik pelajaran apa yang bisa diambil dari pluralisme dan proses demokrasi di Indonesia, Profesor Dr. Werner Gephart berpendapat bahwa munculnya pengungsi di Jerman dan Eropa, yang 80% berasal dari dunia Islam, akan mendatangkan tantangan baru bagi Jerman. Pengalaman Indonesia tentunya akan berharga bagi Jerman untuk mengintegrasikan legal culture para pendatang dan dalam menangani mereka yang masih mengalami trauma akibat konflik di negara asalnya. Prof. Gephart lebih lanjut menyimpulkan bahwa kedua negara dapat belajar dari pengalamannya bahwa meskipun suatu bangsa harus menjaga kesatuan yang begitu beragam, tapi di sisi lain harus bereksperimen dengan ruang yang diberikan oleh pluralisme itu sendiri dalam membangun identitas kolektif. Senada dengan kesimpulan itu, Prof. Dr. Magnis Suseno mencontohkan kegagalan pada era kepemimpinan Orde Baru yang coba menginterpretasikan Pancasila dalam konteks budaya Jawa, sehingga mekanisme penyelesaian konflik horisontal di daerah-daerah yang secara kultur berbeda, seperti Kalimantan, tidak berfungsi dengan baik.


Profesor Dr. Antweiler menyatakan bahwa Indonesia juga dapat belajar dari pengalamannya sendiri di mana pluralisme lebih dari sekedar membanggakan keaneka ragaman budaya dan bahasa, tetapi yang penting adalah menggalang seluruh perbedaan budaya tersebut menjadi satu kesatuan yang kuat.


Menanggapi pertanyaan audiens mengenai apakah Indonesia dapat menciptakan ruang yang cukup luas, baik dalam penafsiran peristiwa 1965, maupun perbedaan ideology, Dr. Siswo Pramono menanggapi bahwa Indonesia juga perlu belajar dari bangsa Jerman dalam menyikapi masa lalunya. Kebebasan yang membentuk kedewasaan bangsa Jerman dalam menanggapi tragedi kemanusiaan yang dilakukan pada Perang Dunia II (Holocoust dan lain-lain) kiranya menjadi inspirasi bangsa Indonesia dalam memulihkan dirinya dari masa lalu yang traumatik di tahun 1965. Saat ini, demokrasi yang semakin dewasa di Indonesia telah membuka ruang publik yang lebih lebar, untuk mendukung kontemplasi yang positif. Tampilnya karya-karya sastra seperti “Pulang“ oleh Leila Chudori, “Alle Farben Rot“ (Amba) oleh Laksmi Pamuntjak dan “Children of War“ oleh Nina Pane di Frankfurt Book Fair 2015 kiranya dapat dilihat sebagai langkah masyarakat Indonesia menuju kedewasaan dalam berpikir dan menyikapi masa lalu menuju semangat untuk rekonsiliasi. Proses ini akan bergulir, sejalan dengan kematangan demokrasi dan tidak bisa dipaksakan.