MENCIPTAKAN PEMAHAMAN PARLEMEN JERMAN MENGENAI INDUSTRI KELAPA SAWIT INDONESIA

​Produk Minyak Sawit sering menjadi  perhatian utama para konsumen dan masyarakat di Jerman, termasuk para politisi. Concern mereka khususnya akan aspek kesehatan, sosial, dan lingkungan, dan aspek kelestariannya (sustainability). Tidak jarang media Jerman mengkaitkan kebakaran hutan dengan pembukaan ladang sawit. Guna memberikan pemahaman yang utuh di kalangan pemangku kepentingan, khususnya para anggota Parlemen di Jerman, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Berlin bekerjasama dengan Bundestag (Parlemen Jerman) telah menyelenggarakan Focus Group Discussion(FGD) on Indonesia’s Sustainable Palm Oil pada tanggal 26 November 2015 di Gedung Bundestag, Berlin.


Acara diskusi terbatas ini dihadiri oleh 40 peserta, yang terdiri dari para anggota Parlemen Jerman,  para staf ahli di Parlemen Jerman, perwakilan NGO setempat, pengusaha, perwakilan pemerintah Jerman, dan Delegasi Indonesia. Selain menciptakan pemahaman yang utuh, diskusi ini juga bertujuan untuk mendapatkan dukungan Jerman kepada  Indonesia dalam mewujudkan sustainable palm oil dan mitigasi kebakaran hutan. Acara ini dipandu oleh Jürgen Klimke (Partai Christian Democratic Union/CDU), dan Dr. Thomas Gambke (Die Grünen – Partai Hijau).


Beberapa narasumber dari Indonesia memberikan penjelasan  yang utuh mengenai industri Kelapa Sawit di Indonesia dan perkembangan terakhir mengenai Kebakaran Hutan, yaitu: Dr. Ir. Ing. Hadi Daryanto, DEA (Dirjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan dari Kementerian Kehutanan), Dr. Herdrajat Natawidjaja, (Direktur Sekretariat Indonesian Sustainable Palm Oil/ISPO), Dr. Bambang Irawan (Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Jambi, sekaligus peneliti di bidang kelestarian Sawit), dan Prof. Catur Sugiyanto (Atase Pertanian KBRI Brussels). Selain dari Indonesia, Prof. Dr. Stefan Scheu, dari University of Göttingen, juga hadir sebagai narasumber

Dalam sambutan pembukaan diskusi, Deputy Chief of Mission (DCM) KBRI Berlin, Dr. Siswo Pramono menyampaikan, bahwa sebagai produsen terbesar minyak sawit, Indonesia memahami pentingnya kelapa sawit bagi perekonomian nasional dan juga untuk kesejahteraan sosial rakyatnya. Namun lebih penting lagi, kontribusi minyak sawit terhadap perekonomian harus berjalan side-by-side dengan aspek keberlanjutannya. Dr. Pramono juga menyampaikan bahwa lebih dari 50% wilayah Indonesia masih merupakan hutan hujan tropis yang kaya akan keanekaragaman hayati, dan  oleh karena itu, Indonesia berpandangan bahwa perkebunan kelapa sawit yang lestari dan hutan alam bisa eksis secara bersamaan. Kuncinya ada pada tata kelola yang baik, penegakan hukum yang konsisten, dan kesadaran masyarakat akan pentingnya kelestarian.


Dari diskusi tersebut, para anggota Parlemen yang hadir mengakui dan mengapresiasi upaya Pemerintah Indonesia dalam menanggulangi kebakaran hutan. Mereka berpandangan bahwa bencana tersebut sebagai salah satu yang terburuk di dunia yang telah mengorbankan rakyat Indonesia dan juga negara-negara tetangganya. Mereka juga menyadari kesulitan yang dialami Indonesia dalam menangani kebakaran hutan di lahan gambut dengan karakteristik yang unik di Indonesia dan berharap musim hujan di Indonesia yang tidak lama lagi akan membantu  mengurangi kebakaran hutan saat ini. Para anggota Parlemen Jerman juga mengutarakan bahwa sebagai salah satu konsumen minyak sawit terbesar di Eropa, Jerman membutuhkan pasokan minyak sawit dari sumber yang sustainable. Di Jerman, minyak sawit diperlukan untuk industry bio-fuel, makanan, obat-obatan, dan kosmetik.


Uni Eropa merupakan pasar ekspor produk kelapa sawit Indonesia terbesar ketiga setelah India dan Tiongkok dengan volume ekspor sekitar 3,5 juta ton atau senilai lebih dari USD 2,2 milyar (2014). Namun demikian, Uni Eropa juga merupakan tujuan ekspor dimana sawit Indonesia paling banyak mendapat tantangan ”kampanye negatif”. Menurut Dr. Pramono, hambatan terhadap komoditi minyak sawit indonesia ke pasar Eropa lebih berupa hambatan politis. Dengan demikian, penggalangan pemahaman dan dukungan di kalangan politisi Jerman menjadi sangat penting. Kasus kebakaran hutan yang parah di Indonesia akhir-akhir ini juga perlu dipahami dalam konteks yang benar. Ada aspek El Nino, ada aspek pelanggaran hukum, ada aspek rendahnya kesadaran lingkungan, dan sebagainya, yang semuanya memerlukan penanganan secara komperehensif. Untuk itu, sangat penting untuk mengubah cara pandang para pemangku kepentingan di Jerman sebagai ekonomi terbesar di Eropa, dari cara pandang yang bersifat konfrontatif menjadi cara pandang yang positif yang didasarkan pada semangat kemitraan, dengan tujuan akhir win-win solution yang bermanfaat untuk pelestarian hutan tropis di Indonesia, namun juga mendukung kesejahteraan rakyat dan petani sawit.


Pada bulan Oktober 2015, Presiden RI telah mencanangkan komoditi minyak kelapa sawit dan produk turunannya sebagai primemover ekspor Indonesia. Dengan demikian produk sawit menjadi salah satu pokok penting dalam diplomasi ekonomi Indonesia di Eropa.