Duta Besar RI di Jerman Menjadi Pembicara Dalam Diskusi Panel “Asia and Europe – Partnership for the 21 Century” di Jacobs University Bremen

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Bersama dengan Duta Besar India, Mr. Sudhir Vyas, Duta Besar Australia, Mr. Peter Martin Tesch, Mr. Klaus Dames-Willers dari Asia-Pacific Association (OAV) dan Duta Besar RI Jerman Eddy Pratomo, telah menjadi pemrasaran dalam diskusi panel dengan tema ‘Asia and Europe – Partnership for the 21 Century’ Opportunities, Challenges and Threats for a Changing Global Environment’ yang dipandu oleh Prof. Dr. Stephen Nay, Profesor bidang Policy Science, Jacobs University Bremen.

Acara yang berlangsung pada tanggal 25 Pebruari 2010 di Campus Centre Jacobs University Bremen. tersebut dihadiri oleh lebih dari 150 orang civitas akademika Jacobs University Bremen dan anggota Bremen Asia-Pacific Association (OAV). Selain ketiga Duta Besar tersebut di atas, pada acara tersebut hadir juga Duta Besar Brunei Darussalam, Malaysia, Nepal dan Sri Lanka. Tujuan dari penyelenggaraan Diskusi Panel tersebut adalah untuk bertukar pikiran mengenai masalah – masalah internasional, khususnya hubungan Asia dan Eropa, dan informasi perkembangan terkini dari masing-masing negara yang menarik perhatian para akademisi.

Tema-tema yang menarik telah dibahas secara komprehensif oleh para pemrasaran dan dibahas secara mendalam oleh para peserta. Duta Besar Eddy Pratomo dalam kesempatan tersebut telah menyampaikan berbagai kemajuan yang dicapai Indonesia yang memungkinkan Indonesia untuk turut berperan aktif didalam memberikan kontribusi kepada penyelesaian masalah dunia, seperti masalah krisis keuangan, perubahan iklim dan masalah lainnya. Di bidang politik, Indonesia telah berhasil melaksanakan proses demokrasi dimana proses pemilu legislatif dan pemilu presiden/wakil presiden telah berjalan dengan lancar, transparan dan aman. Sebagai negara demokrasi terbesar ketiga setelah Amerika dan India, Indonesia telah menunjukkan kemampuannya dalam menciptakan keharmonisan antara islam, demokrasi dan modernitas. Indonesia juga telah membuktikan sebagai bangsa yang bersatu, pluralis, stabil dan dinamis. Kondisi tersebut sangat penting artinya bagi Indonesia untuk turut menciptakan ketertiban dan keamanan baik bagi kawasan regional maupun internasional. Dubes juga menyampaikan keyakinannya bahwa sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar di Asia Tenggara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, dimana Islam, Demokrasi dan Modernity dapat berkembang bersama-sama dengan baik, Indonesia dapat memainkan peran yang stratejik dalam pembahasan dan penyelesaian berbagai permasalahan dunia, termasuk membangun kemitraan dengan negara-negara Eropa khususnya Jerman.

Lebih lanjut Dubes mengemukakan bahwa fondasi ekonomi makro Indonesia yang kuat telah membuktikan ketahanannya dalam menghadapi krisis keuangan tahun lalu dan merupakan salah satu “emerging economies” yang akan terus memainkan peran dan kontribusinya dalam reformasi arsitektur keuangan internasional melalui keanggotaannya dalam G-20.

Pada tingkat regional, Indonesia juga telah memainkan peran yang menentukan dalam memajukan berbagai kerjasama di kawasan, khususnya melalui kerjasama ASEAN. Pada tataran internasional, Indonesia juga telah memberikan kontribusinya secara signifikan. Selain menjadi tuan rumah Konperensi UNFCCC di Bali tahun 2007 yang menghasilkan Bali Roadmap, Indonesia telah berpartisipasi aktif dalam berbagai Konperensi Tingkat Tinggi antara lain the Hokkaido Summit 8+8, KTT G-20 di Washington D.C, KTT OKI, KTT ASEM, KTT ASEAN+3 dan KTT APEC.

Indonesia menyampaikan harapan yang kuat untuk terus mempererat hubungannya dengan Negara-negara EU, khususnya Jerman, melalui konsultasi-konsultasi dan pertemuan-pertemuan bilateral dan melalui forum ASEM. Bagi Indonesia, ASEM merupakan forum yang tepat bagi negara-negara Asia dan Eropa untuk membahas berbagai masalah penting pada tingkat regional maupun global. Untuk itu, Indonesia akan tetap terus sebagai mitra yang aktif dalam kerangka ASEM dan the ASEAN-EU dan terus meningkatkan kerjasama di bidang politik, ekonomi dan sosbud.

Dalam kesempatan tersebut, Dubes RI juga menyampaikan bahwa dalam hubungan bilateral, Indonesia dan Jerman telah membuat komitmen dan kesepakatan untuk semakin meningkatkan kerjasama di bidang ekonomi, interfaith dialogue dan perubahan iklim. Kesepakatan tersebut dicapai pada saat pertemuan antara Presiden RI dengan Kanselir Jerman Angela Merkel bulan Desember 2009 yang lalu.

Diskusi berjalan dengan baik dan hangat karena para peserta mengikuti acara tersebut dengan antusias terbukti dengan beragamnya pertanyaan diajukan oleh para peserta.

Dalam kesempatan ramah tamah setelah selesainya diskusi panel dimaksud, Dubes RI juga telah memanfaatkan kesempatan yang baik tersebut untuk memberikan informasi mengenai peluang-peluang peningkatan kerjasama antara universitas di Jerman dan di Indonesia serta kemungkinan terciptanya pertukaran para mahasiswa dan staf pengajar antar kedua negara yang lebih banyak di masa yang akan datang.

Jacobs University Bremen adalah salah satu universitas swasta berlokasi di Bremen dan didirikan pada tahun 1999, dengan jumlah mahasiswa sekitar 1254 orang, dimana 675 orang diantaranya mengikuti program undergraduate dan 579 orang program graduate. Universitas ini merepresentasikan 98 negara di dunia. Mayoritas mahasiswa di universitas tersebut berasal dari negara-negara yang sedang berkembang, khususnya dari Eropa Timur dan Asia. Salah satu aspek yang diutamakan pada pendidikan di universitas tersebut adalah memberikan wahana mempertemukan berbagai bangsa yang saling menghormati masing-masing budaya yang ada di dunia.