Pertemuan Pertama Konsultasi Bilateral antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Federal Jerman, Jakarta, 17 Mei 2010

5/17/2010

 
No. 97/PR/V/2010/53
 
Pertemuan Pertama Konsultasi Bilateral Indonesia-Jerman diselenggarakan di Hotel Borubudur Jakarta pada tanggal 17 Mei 2010. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Duta Besar Retno L. P. Marsudi, Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kemlu RI, beranggotakan Duta Besar RI untuk Berlin, Direktur Eropa Barat dan para pejabat instansi terkait. Sedangkan Delegasi Jerman dipimpin oleh Duta Besar Cyrill Jean Nunn, Director General for Asia and Pacific Affairs, beranggotakan Duta Besar Jerman di Jakarta serta para anggota delegasi terdiri dari unsur Kementerian Luar Negeri Jerman dan Kedutaan Besar Jerman di Jakarta. Pertemuan ini membahas langkah-langkah strategis untuk memajukan hubungan bilateral kedua negara sebagai tindak lanjut hasil-hasil kunjungan Presiden RI ke Berlin pada bulan Desember 2009.  Pertemuan ini juga membahas isu-isu regional dan global yang menjadi kepentingan bersama.
 
Sebagai sesama negara demokrasi, Pertemuan ini membahas langkah-langkah pelaksanaan program kerjasama bilateral untuk penguatan lembaga-lembaga demokrasi di Indonesia. Dalam kaitan ini kedua delegasi memandang perlu untuk meningkatkan koordinasi pelaksanaan program kerjasama untuk mendukung proses desentralisasi di Indonesia, terutama dalam peningkatan kapasitas pemerintahan daerah dalam pelayanan public sesuai dengan Rencana Pembangnunan Nasional Indonesia. Kedua delegasi juga mengindentifikasikan langkah-langkah koordinasi untuk pelaksanaan program kerjasama untuk mendukung upaya Indonesia dalam pemberdayaan dan perlindungan hak-hak perempuan dan kerjasama untuk mendukung upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.
 
Kedua delegasi berpandangan bahwa memperhatikan baiknya kerjasama bidang pertahanan dan keamanan kedua negara, maka dipandang perlu untuk menyediakan payung hukum yang baku bagi kerjasama tersebut dengan sebuah Perjanjian Kerjasama Pertahanan (DCA) yang saat ini sedang dirundingkan oleh kedua negara.
 
Kedua delegasi mencatat bahwa Jerman adalah mitra dagang dan investasi utama Indonesia. Meskipun pada tahun 2009 perdagangan kedua negara mengalami penurunan sebesar 15% (dari US$ 5,53 milyar tahun 2008 menjadi US$ $,7 milyar pada tahun 2009) karena terjadi krisis keuangan global, namun tercatat bahwa pada periode 2006-2008 volume  perdagangan kedua negara menunjukan peningkatan. Demikian pula terjadi pada sektor investasi, Jerman sebagai investor Eropa kedua terbesar di Indonesia, investasinya pada tahun 2009 tercatat hanya 18 proyek senilai US$103,9 juta yang mengalami penurunan dibandingkan pada tahun 2008 dengan 22 proyek senilai US$ 198,3 juta. Jumlah investasi pada tahun 2008 ini sebenarnya meningkat sangat signifikan dibandingkan tahun 2007 yang hanya mencapai 17 proyek senilai US$ 18,5 juta. Tercatat pula bahwa untuk menjalankan kegiatan perdagangan dan investasi tersebut terdapat sekitar lebih dari 250 perusahaan Jerman beroperasi di Indonesia.
 
Kedua delegasi sependapat untuk segera mengoptimalkan potensi perdagangan dan investasi tersebut, khususnya mengidentifikasikan langkah-langkah untuk meningkatkan perdagangan mencapai volume sebelum krisis atau lebih tinggi lagi. Kedua delegasi juga sependapat perlunya upaya bersama untuk meningkatkan promosi dan fasilitasi untuk manarik lebih banyak lagi dan menunjang kegiatan investasi Jerman di Indonesia.  Untuk ini kedua delegasi mencatat perlunya kedua belah pihak meningkatkan koordinasi pelaksanaan program kejasama bilateral untuk meningkatkan daya saing Indonesia di pasar internasional baik untuk meningkatkan ekspor maupun untuk meningkatkan jumlah investor Jerman melakukan kegiatannya di Indonesia. Untuk ini kedua delegasi sepakat untuk meminta para pejabat terkait untuk menyusun langkah-langkah strategis dalam upaya menghidupkan kembali German-Indonesia Forum (GIF) sebagai wadah untuk mendukung upaya kedua negara memajukan kerjasama ekonomi antara Indonesia dengan Jerman.
 
Kedua delegasi juga membahas langkah-langkah koordinasi pelaksanaan kesepakatan pelaksanaan environmental partnership yang akan diawali dengan kegiatan terkait dengan sustainable use of geothermal energy di Indonesia sebagai bagian dari pelaksanaan MoU mengenai Clean Development Mechanism (CDM) yang ditandatangani oleh kedua Menteri Lingkungan Hidup pada saat kunjungan  Presiden RI Berlin pada bulan Desember 2009.
 
Kedua delegasi berpandangan bahwa memajukan kerjasama bidang pendidikan adalah untuk mencerdaskan bangsa yang pada gilirannya akan dapat mendukung upaya penigkatakan daya saing Indonesia. Untuk itu kedua delegasi sepakat untuk terus berkonsultasi guna mendukung upaya peningkatan bea siswa Jerman bagi siswa Indonesia, kejasama peningkatan sistem pendidikan kejuruan di Indonesia, perluasan pertukaran siswa dan pengajar termasuk penyelenggaraan longterm lectureship di Indonesia.
 
Kedua delegasi menegaskan bahwa hasil-hasil Pertemuan Bilateral atara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Jerman untuk kerjasama pembangunan yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 11 Mei 2010  disamping merupakan pertemuan rutin, juga telah dapat melahirkan berbagai program kerjasama yang akan menjadi  langkah awal yang sangat baik dalam mewujudkan hasil-hasil pertemuan Presiden RI dengan Presiden dan Kanselir Jerman di Berlin pada bulan Desember 2009. Kedua Pemerintahan telah berhasil menyusun program kerjasama pembangunan untuk beberapa tahun kedepan dengan fokus pada tiga hal, pertama adalah program penguatan demokrasi; kedua kerjasama untuk perubahan iklim; dan ketiga kerjasama untuk  meningkatakan daya saing Indonesia di pasar internasional.
 
Kedua delegasi juga mencatat bahwa skema debt swap antara Pemerintah Indonesia dengan Jerman yang telah berlangsung sejak tahun 2005, tidak saja dapat menyelesaikan masalah pembayaran hutang Pemerintah Indonesia dengan Jerman, tetapi juga telah dapat memberikan manfaat bagi program pembangunan pendidikan dasar dan menengah, program kesehatan Ibu dan anak serta untuk program perlindungan lingkungan hidup di Indonesia. Kedua delegasi telah meminta kepada instansi terkait dari kedua belah pihak untuk menuntaskan persiapan program debt swap selanjutnya yang akan mendukung program nasional Indonesia di bidang kehutanan untuk mengatasi perubahan iklim, sehingga seluruh hutang yang masuk dalam skema debt swap ini dapat dilunasi.
 
Kedua delegasi mengapresiasi hasil kerja kedua belah pihak yang tekait dalam mempersiapkan pelaksanaan Indonesia-Germany Interfaith Dialogue and Promoting Academic Cooperation dengan tema ‘Improving Understanding and Tolerance through Intercultural and Interfaith Dialogue’, yang akan diselenggarakan di Universitas Islam Nasional Sunan Kalijaga, Yogyakarta pada tanggal 19-24 Juni 2010. Program kerjasama ini tidak saja akan dapat meningkatkan saling pengertian tentang kebudayaan kedua bangsa, tetapi juga bermanfaat bagi kedua negara untuk mendukung program deradikalisasi di kedua negara.
 
Konsultasi bilateral berikutnya akan diselenggarakan di Jerman pada tahun 2012.
 
Pelaksanaan Pertemuan Konsulasi Bilateral ini merupakan hasil pembicaraan antara Menteri Luar Negeri RI, Marty Natalegawa dengan Menteri Luar Negeri Jerman,  Guido Westellle di Berlin pada tanggal 15 Desember 2009. Pertemuan kedua Menlu tersebut adalah untuk menindak-lanjuti pembicaraan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dengan Presiden Jerman, Horst Kohle dan Kanselir Jerman, Angela Merkel pada beberapa jam sebelumnya di hari yang sama.
 
Konsultasi Bilateral diadakan  mengingat kedua Menlu berpandangan bahwa meskipun hubungan bilateral berjalan dengan baik namun massih perlu diadakan konsultasi bilateral secara regular untuk mengoptimalkan kerjasama kedua negara. Untuk itu dalam Pertemuan Pertama Konsultasi Bilateral ini pembicaraan difokuskan pada identifikasi langkah-langkah tindak lanjut dari hasil-hasil pertemuan para pemipimpin kedua negara di Berlin pada bulan Desember 2009 tersebut. (sumber: Dit. Erbar)