Indonesia Jadi Kandidat Utama Penerima Oscar Lingkungan Hidup

3/24/2011

 

Walaupun berlimpah ruah namun jika tidak dikelola  dan dilestarikan dengan  baik, sumber daya alam Indonesia akan habis dan bahkan bisa menimbulkan bencana yang tak kecil. Hal inilah yang menjadi dasar Pemprov Nangroe Aceh Darusalam mengeluarkan kebijakan moratorium atau penghentian sementara penebangan hutan melalui Instruksi Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam nomor : 05/ INSTR/2007.  Kebijakan tersebut diambil guna mengembalikan fungsi hutan serta menata kembali strategi pembangunan hutan Aceh untuk mencegah terjadinya kembali musibah seperti banjir, tanah longsor dan gangguan satwa liar yang disebabkan oleh adanya kerusakan hutan, terutama pasca bencana tsunami akhir tahun 2004 yang lalu.

 

Instruksi Gubernur Aceh tersebut tak dinyana tertangkap radar World Future Council Foundation (WFC), suatu lembaga nirlaba yang bertujuan untuk memberikan masukan kepada para politisi dan pengambil kebijakan guna menciptakan kerangka pembangunan berkelanjutan yang selalu mempertimbangkan kepentingan keadilan  antar-generasi. Dalam keterangan pers-nya, WFC menyampaikan pencalonan Indonesia sebagai penerima ’The Future Policy Award 2011’  terutama atas berbagai kebijakan yang ditempuh Pemprov. Nanggroe Aceh Darussalam melalui Instruksi Gubernur No. 05 / INSTR / 2007 tersebut.

 

Selain Indonesia, negara-negara yang dinominasikan untuk menerima penghargaan tersebut adalah Bhutan, Brazil, Costa Rica, Ecuador, Finland, Gambia, Guatemala, Kenya, Nepal, Norway, India, Rwanda, Turkey, USA dan Vietnam.   Seleksi akan dilakukan hingga menjadi 6 negara, untuk dipilih 3 pemenang kebijakan yang terbaik. Pada tahun 2010, pemenang penghargaan ini adalah Costa Rican Biodiversity Law 1998, Australian Great Barrier Reef Marine Park Act 1975 and Environment Protection and Biodiversity Conservation Act 1999  serta Tuscan Regional Law 2004 on the Protection and Promotion of Heritage of Local Breeds and Plant Varieties.

 

Penghargaan kepada tiga pemenang dari 6 negara yang terpilih   akan dikukuhkan pada tanggal 21 September 2011 pada Sidang Majelis Umum PBB di New York. Sekretariat UNFF, Sekretariat UN-CBD, WFC dan World Conservation Society akan bertindak selaku tuan rumah pada upacara penyerahan tersebut.

KBRI Berlin sangat menyambut baik nominasi ini. ”Hal ini merupakan salah satu bukti kepemimpinan RI dalam upaya perlindungan iklim global, mencegah penggundulan hutan, serta melindungi dan melestarikan keragaman hayati,” demikian ungkap Duta Besar RI untuk Republik Federal Jerman, Eddy Pratomo. ”Hal ini tentunya juga merupakan bukti pengakuan masyarakat internasional terhadap berbagai upaya positif Pemerintah RI dalam memelihara paru-paru dunia,” demikian imbuh Dubes Pratomo.

 

WFC merupakan suatu lembaga nirlaba yang bertujuan untuk memberikan masukan kepada para politisi dan pengambil kebijakan guna menciptakan kerangka kebijakan pembangunan berkelanjutan yang selalu mempertimbangkan kepentingan keadilan  antar-generasi.  Berbasis di Hamburg, Jerman, serta berkantor cabang  di London, Brussels, Washington DC dan Johannesburg,  WFC beranggotakan 50 pakar dari seluruh dunia yang banyak berkiprah dalam menyuarakan kebijakan pembangunan berkelanjutan.